WHO dan Kemenkes Ingatkan Ancaman “Malaria Monyet”, Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Jakarta, otoritas.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap malaria zoonotik atau yang dikenal sebagai “malaria monyet” akibat parasit Plasmodium knowlesi yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.
Penyakit tersebut menjadi perhatian karena sejumlah kasus dilaporkan muncul di beberapa wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Parasit Plasmodium knowlesi diketahui secara alami hidup pada monyet ekor panjang dan beruk yang berada di kawasan hutan tropis.
Dalam laporan resminya, WHO Indonesia menyebut keterlambatan diagnosis dan pengobatan malaria masih menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko komplikasi dan kematian akibat penyakit tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni mengatakan pemerintah terus memperkuat pengendalian malaria di Indonesia dan menargetkan eliminasi malaria nasional pada tahun 2030.
“Sebanyak 412 dari 514 kabupaten/kota telah dinyatakan bebas malaria. Namun kasus malaria masih menjadi perhatian serius terutama di wilayah endemis,” ujar Andi Saguni dalam peringatan Hari Malaria Sedunia 2026.
Sementara itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis menjelaskan malaria knowlesi memiliki siklus perkembangan parasit yang cepat sehingga pasien dapat mengalami perburukan kondisi dalam waktu singkat apabila terlambat mendapatkan penanganan medis.
“Parasit Plasmodium knowlesi dapat berkembang cepat di dalam tubuh manusia sehingga perlu deteksi dan pengobatan sedini mungkin,” ujar dr. Inke dalam diskusi kesehatan terkait malaria zoonotik.
Menurut para ahli kesehatan, meningkatnya pembukaan lahan, aktivitas perkebunan, pertambangan, serta deforestasi menyebabkan interaksi manusia dengan habitat satwa liar semakin tinggi. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis, termasuk malaria knowlesi.
Gejala malaria knowlesi umumnya mirip dengan malaria biasa, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh lemas. Namun pada kondisi berat, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan, gagal ginjal, hingga kematian.
Untuk mencegah penularan malaria knowlesi, masyarakat diimbau menggunakan obat anti nyamuk saat berada di kawasan hutan atau perkebunan, memakai pakaian tertutup, menggunakan kelambu saat tidur, serta menghindari aktivitas malam hari di wilayah rawan nyamuk.
Kementerian Kesehatan juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam setelah melakukan aktivitas di kawasan hutan atau daerah endemis malaria.
Selain itu, pemerintah daerah diminta memperkuat pengendalian nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, melakukan surveilans kesehatan, dan meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya malaria zoonotik.
Para pakar berharap langkah pencegahan dan deteksi dini dapat menekan penyebaran malaria knowlesi di Indonesia sekaligus mendukung target eliminasi malaria nasional pada tahun 2030. (**)
