Konsisten Buyback Saham, BRI Optimistis Fundamental Perseroan Dorong Pertumbuhan Jangka Panjang

0
IMG-20261028-WA0002

JAKARTA, Otoritas.co.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kepercayaan investor melalui strategi pembelian kembali saham (buyback). Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai perusahaan sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

BRI menilai fundamental keuangan yang solid menjadi modal penting bagi perseroan dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan.

Komitmen tersebut tercermin dari sejumlah aksi buyback yang telah dilakukan dalam beberapa periode terakhir. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025, pemegang saham BRI menyetujui pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp3 triliun.

Memasuki 2026, BRI kembali melaksanakan buyback tahap pertama dengan alokasi dana maksimal Rp500 miliar untuk periode 12 Juni hingga 11 September 2026.

Selanjutnya, berdasarkan keterbukaan informasi pada 22 Oktober 2026, BRI mengumumkan rencana buyback tahap kedua senilai maksimal Rp1 triliun yang dijadwalkan berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa kebijakan pembelian kembali saham merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan.

“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny dalam keterangan resminya, Oktober 2026.

Menurutnya, keputusan tersebut juga mempertimbangkan berbagai faktor eksternal, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga pergerakan arus modal yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan nasional.

Dari sisi kinerja, BRI mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir triwulan II 2026. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun dengan total aset mencapai Rp2.352 triliun atau meningkat 11,7 persen secara tahunan.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,7 persen menjadi Rp1.581 triliun. Penyaluran kredit dan pembiayaan juga meningkat 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.

Kinerja tersebut didukung kondisi permodalan yang tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,5 persen dan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 90,8 persen.

Kondisi ini dinilai memberikan ruang bagi BRI untuk terus memperkuat fungsi intermediasi perbankan, menjaga kualitas pertumbuhan bisnis, serta mendukung pembiayaan sektor produktif secara berkelanjutan.

Dhanny menegaskan, BRI akan terus memprioritaskan penguatan fundamental bisnis, pengelolaan risiko, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan strategi perusahaan.

“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Melalui strategi buyback yang dijalankan secara bertahap, BRI berupaya menjaga nilai perusahaan sekaligus memperkuat keyakinan investor terhadap prospek bisnis perseroan di tengah perubahan kondisi ekonomi dan pasar keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *