10 Agustus 2026

Dorong Indonesia Bangun Ekosistem dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda Berbasis Budaya dan Kreativitas

0
file_00000000da8082088d3c38d6cff1c6d5

JAKARTA, OTORITAS.co.id – Pengalaman menyaksikan pertunjukan budaya di Korea Selatan menjadi inspirasi bagi Dr. Susilawati M. Han untuk mendorong Indonesia membangun ekosistem pembentukan karakter generasi muda yang tidak semata-mata berorientasi pada materi ajar dalam pendidikan formal di sekolah.

Menurutnya, pembangunan manusia harus dilakukan secara lebih luas melalui pengalaman, budaya, seni, kreativitas, keterampilan, kesehatan, kedisiplinan, serta berbagai aktivitas positif yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang dan berkarya.

Dr. Susilawati M. Han menuturkan, saat berkunjung ke Korea Selatan sebagai wisatawan, dirinya berkesempatan menyaksikan pertunjukan yang melibatkan sekitar 1.000 penari dari kalangan generasi muda Korea Selatan.

Berbagai atraksi dan tarian ditampilkan secara terorganisasi dan melibatkan generasi muda dalam sebuah pertunjukan budaya yang menarik perhatian wisatawan. Hal tersebut memberikan kesan mendalam bagi Susilawati karena kegiatan tersebut tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga terlihat sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan pengembangan potensi generasi muda.

“Yang membuat saya terkesan, generasi muda Korea Selatan benar-benar dibantu negara untuk dibentuk karakternya. Di satu sisi menarik minat wisatawan mancanegara, tetapi di sisi lain budaya, kreativitas dan kualitas sumber daya manusia berpadu menjadi sumber ekonomi negara sekaligus memberikan nilai bagi setiap individu,” ujar Dr. Susilawati.

Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia yang memiliki jumlah penduduk dan generasi muda sangat besar, sekaligus memiliki kekayaan budaya yang jauh lebih beragam.

Indonesia, kata dia, memiliki modal besar untuk membangun industri berbasis budaya dan kreativitas. Namun, potensi tersebut membutuhkan sistem pembinaan yang terencana, berkelanjutan dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Pembangunan manusia tidak semata-mata berbicara mengenai materi ajar di pendidikan formal di sekolah. Harus ada aksi nyata yang membentuk karakter, kreativitas dan kemampuan anak-anak muda. Mereka harus diberikan ruang untuk berkarya, berkreasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.

Susilawati menilai, pendidikan formal tetap memiliki peran penting. Namun, pembentukan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui proses belajar-mengajar di dalam kelas.

Generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk mengalami proses secara langsung, bekerja dalam tim, belajar disiplin, bertanggung jawab, berlatih secara konsisten, mengenal budaya, serta mengembangkan kemampuan seni dan kreativitas.

“Jadi bukan hanya apa yang diajarkan di sekolah, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengalaman. Ketika mereka dilibatkan dalam sebuah kegiatan, mereka belajar disiplin, kerja sama, tanggung jawab, percaya diri dan menghargai budaya. Itu bagian dari pembentukan karakter,” ujarnya.

Susilawati mencontohkan konsep pembinaan yang dapat diterapkan melalui program seni dan budaya dengan melibatkan ribuan generasi muda.

Menurutnya, pemerintah dapat membangun sebuah program, misalnya dengan melibatkan 1.000 penari utama dan 1.000 penari cadangan. Para peserta dibina dalam periode tertentu, misalnya satu hingga dua tahun, kemudian dilakukan regenerasi secara berkelanjutan.

Dengan pola tersebut, program tidak berhenti pada satu kelompok generasi. Para peserta yang telah selesai menjalani pembinaan dapat melanjutkan potensinya di bidang seni pertunjukan, entertainment, industri kreatif maupun bidang lainnya.

“Misalnya ada 1.000 penari utama dan 1.000 penari cadangan. Mereka dibina satu atau dua tahun, kemudian dilakukan regenerasi. Yang sudah selesai bukan berarti selesai begitu saja. Mereka sudah memiliki pembentukan karakter, disiplin dan keterampilan yang bisa dikembangkan untuk masuk ke industri kreatif atau entertainment,” jelasnya.

Menurutnya, sistem seperti itu dapat menciptakan efek berantai. Anak-anak muda memperoleh pengalaman dan keterampilan, sementara negara mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan serta karakter.

Pada saat yang sama, pertunjukan budaya yang dikemas secara profesional dapat menjadi daya tarik wisata dan membuka peluang ekonomi baru.

“Dari sesuatu yang sederhana seperti pertunjukan tari, ternyata bisa memunculkan banyak hal. Ada pembentukan karakter, ada pelestarian budaya, ada pariwisata, ada industri kreatif, dan pada akhirnya ada dampak ekonomi,” katanya.

Susilawati melihat Korea Selatan sebagai salah satu contoh bagaimana budaya dan kreativitas dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan bagian dari citra suatu negara.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia, kreativitas dan budaya apabila dikembangkan secara konsisten dapat menghasilkan ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat bukan hanya bagi negara, tetapi juga bagi individu yang terlibat di dalamnya.

“Budaya, kreativitas dan kualitas SDM itu bisa berpadu menjadi sebuah kekuatan ekonomi. Pada akhirnya negara juga semakin dihargai oleh negara-negara lain,” tuturnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama kementerian dan lembaga terkait, untuk memikirkan model pembinaan generasi muda yang lebih konkret dan terintegrasi.

Menurutnya, pembangunan manusia seharusnya tidak hanya diukur dari aspek pendidikan formal atau indikator materi, tetapi juga dari kualitas karakter, kesehatan, kreativitas, kemampuan sosial dan produktivitas generasi muda.

Susilawati juga menilai pembangunan ekosistem generasi muda harus dimulai sejak awal kehidupan. Kualitas manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ibu dan anak, pemenuhan nutrisi, serta tumbuh kembang yang optimal.

Menurutnya, jika sejak dalam kandungan ibu mendapatkan nutrisi yang baik dan anak tumbuh sehat, maka ketika memasuki usia pendidikan dan pengembangan bakat, mereka akan memiliki fondasi fisik yang lebih baik untuk mengikuti berbagai aktivitas.

“Kalau kita sadar sejak awal bahwa akan ada konsep seperti ini, maka sejak dari kandungan pun setiap ibu harus mendapatkan nutrisi yang baik agar bayinya sehat. Ketika anak sehat secara fisik, kemudian dapat diakomodasi dengan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan kreativitas, akan terbentuk ekosistem yang baik,” jelasnya.

Ia mengatakan, persoalan kesehatan anak juga berkaitan dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Upaya pencegahan stunting, pemenuhan gizi, pendidikan, pengembangan bakat, budaya dan kreativitas seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Dari satu hal saja bisa memunculkan ekosistem yang baik untuk meningkatkan kualitas SDM suatu negara,” tambahnya.

Susilawati menegaskan Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk menerapkan konsep tersebut. Selain memiliki jumlah penduduk dan generasi muda yang besar, Indonesia juga mempunyai keragaman budaya, seni dan tradisi yang tersebar di berbagai daerah.

Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikembangkan melalui sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Indonesia memiliki modal yang luar biasa. Penduduknya banyak, generasi mudanya banyak, budayanya juga sangat beragam. Seharusnya kita bisa membangun sistem yang lebih besar,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat generasi muda sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek yang harus diberikan ruang untuk berkreasi dan menghasilkan karya.

Menurutnya, jika pembentukan karakter, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, kreativitas dan ekonomi dapat dirancang dalam satu ekosistem, maka Indonesia tidak hanya menghasilkan generasi muda yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat, sehat, kreatif, produktif dan mampu menciptakan nilai ekonomi.

“Jangan hanya anak-anak belajar di sekolah dan mendapatkan materi pelajaran. Mereka juga harus mendapatkan pengalaman nyata yang membentuk karakter dan kreativitasnya. Negara harus hadir membangun ekosistemnya,” pungkas Dr. Susilawati M. Han.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Account Suspended
    Account Suspended
    This Account has been suspended.
    Contact your hosting provider for more information.