Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Besar Harus Memuliakan Kaum Ibu sebagai Pembentuk Generasi Bangsa

Jakarta, Otoritas.co.id – Pengamat Kebijakan Publik dan Pertahanan Dr. Susilawati, M.Han menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia memberikan penghargaan yang lebih besar kepada kaum ibu atas peran strategisnya dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, seorang ibu bukan sekadar menjalankan peran domestik, tetapi merupakan sumber pengetahuan pertama dan pembentuk generasi bangsa yang menentukan masa depan Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Susilawati setelah mencermati berbagai perkembangan di tingkat internasional, salah satunya kebijakan di Dubai, Uni Emirat Arab, yang mengubah penyebutan “Ibu Rumah Tangga” menjadi “Pembentuk Generasi” (Generation Builder). Kebijakan tersebut bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran ibu yang selama ini dinilai belum memperoleh penghargaan yang layak.
Menurut Dr. Susilawati, langkah tersebut patut menjadi inspirasi bagi Indonesia karena mencerminkan pengakuan negara terhadap besarnya kontribusi seorang ibu dalam membangun bangsa.
“Perempuan sebagai ibu adalah sumber pengetahuan pertama bagi anak. Mereka melahirkan, membesarkan, mendidik, sekaligus membentuk karakter generasi muda yang kelak menentukan masa depan bangsa. Karena itu siapa pun, apa pun statusnya, harus menghormati perempuan, baik di ruang privat maupun ruang publik,” ujar Dr. Susilawati, M.Han.
Ia menjelaskan bahwa kualitas generasi bangsa tidak hanya ditentukan oleh sistem pendidikan formal, tetapi berawal dari lingkungan keluarga. Dalam proses tersebut, ibu memegang peran utama sebagai pendidik pertama yang menanamkan nilai moral, etika, nasionalisme, disiplin, serta karakter kepada anak-anaknya.
Dr. Susilawati mengungkapkan bahwa pandangan mengenai pentingnya memuliakan perempuan sebagai pembentuk generasi telah lama ia sampaikan dalam berbagai kesempatan. Namun hingga kini, menurutnya, perhatian pemerintah terhadap penguatan peran ibu masih belum optimal.
Ia berharap pemerintah mulai membangun paradigma baru yang menempatkan perempuan sebagai mitra strategis pembangunan nasional, bukan hanya sebagai pelengkap dalam keluarga.
Pandangan Dr. Susilawati mendapat penguatan dari GKR Hemas (Ratu Hemas), Anggota DPD RI sekaligus Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam keterangannya, GKR Hemas menegaskan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat menentukan dalam membangun kualitas keluarga dan generasi bangsa.
Menurut GKR Hemas, perempuan harus memperoleh pendidikan yang baik karena dari seorang perempuan yang terdidik akan lahir keluarga yang lebih maju dan berkualitas.
“Sebetulnya perempuan itu justru harus lebih terdidik. Dari seorang perempuan yang terdidik, sedikit banyak ia akan mampu membawa keluarganya menjadi lebih baik,” ujar GKR Hemas.
Ia menekankan bahwa pendidikan tidak semata-mata diukur dari gelar akademik yang tinggi. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang perempuan memiliki bekal pengetahuan, nilai kehidupan, serta karakter yang dibentuk melalui lingkungan keluarga, pendidikan, dan masyarakat.
“Terdidik itu bukan hanya dari bidang pendidikan formal, tetapi juga dari lingkungan dan masyarakatnya. Dengan bekal itu, perempuan mampu membawa keluarganya menjadi lebih baik, baik dari sisi pendidikan maupun pembentukan akhlak,” lanjutnya.
Menurut GKR Hemas, ibu merupakan sosok yang paling dekat dengan anak sejak usia dini. Karena itu, keberhasilan membentuk karakter generasi penerus sangat bergantung pada kualitas pendidikan dan keteladanan yang diberikan seorang ibu di dalam keluarga.
Ia berharap pesan tersebut menjadi perhatian bagi generasi muda, khususnya kaum perempuan yang kelak membangun rumah tangga.
“Harapannya, anak-anak yang dibesarkan akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, memiliki akhlak yang baik, dan mampu meraih masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Sebagai penutup, Dr. Susilawati menilai sudah waktunya pemerintah memberikan penghargaan yang lebih nyata kepada para ibu Indonesia melalui kebijakan yang berpihak pada perlindungan perempuan, peningkatan kesejahteraan keluarga, pendidikan ibu dan anak, serta pemberdayaan perempuan.
Menurutnya, kontribusi kaum ibu terhadap bangsa selama ini sangat besar, tetapi sering kali belum mendapatkan pengakuan yang sepadan.
“Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Di balik capaian tersebut ada perjuangan jutaan ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendidik generasi penerus bangsa. Ini merupakan kontribusi yang luar biasa dan sudah selayaknya mendapatkan penghargaan dari negara,” tegas Dr. Susilawati.
Ia berharap Indonesia mulai membangun paradigma baru bahwa ibu bukan sekadar ibu rumah tangga, melainkan pembentuk generasi bangsa. Penghargaan terhadap kaum ibu, menurutnya, tidak cukup diwujudkan melalui seremoni, tetapi harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret agar kualitas keluarga Indonesia semakin kuat sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
(Red)
