30 Tahun Mengabdi di Kemenkeu, Wahyuning Darwati Mantapkan Langkah Menuju Gelar Doktor di Malaysia

JAKARTA, OTORITAS – Semangat belajar sepanjang hayat kembali ditunjukkan oleh Wahyuning Darwati. Di tengah pengabdiannya yang telah memasuki tiga dekade sebagai aparatur di lingkungan Kementerian Keuangan, ia terus menorehkan prestasi akademik dengan melangkah menuju tahap penting dalam studi doktoralnya.
Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu berangkat ke Malaysia pada Kamis, 19 Juni 2026, untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di Universiti Utara Malaysia (UUM). Kegiatan tersebut merupakan salah satu tahapan akademik yang harus ditempuh dalam proses penyelesaian program doktoralnya.
Dalam paparannya, Wahyuning mengangkat penelitian mengenai kepatuhan internal dan implementasi Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK) di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) DKI Jakarta. Penelitian tersebut memadukan aspek tata kelola pemerintahan yang bersih, etika organisasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik.
“Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang saya dalam menyelesaikan studi doktoral di UNJ. Saya berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penguatan tata kelola organisasi yang berintegritas,” ujar Wahyuning.
Perjalanan akademik dan kariernya memang menjadi inspirasi tersendiri. Selama 30 tahun mengabdi di Kementerian Keuangan, Wahyuning pernah menjalankan berbagai tugas strategis, termasuk sebagai Kepala Subbagian SDM DJKN wilayah Riau, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau.
Di bidang pendidikan, ia menapaki jenjang akademik secara bertahap dan konsisten. Alumni D3 STAN Bintaro ini kemudian menyelesaikan pendidikan S1 di STIE Muhammadiyah, melanjutkan S2 di STIE Ganesha dengan prestasi akademik membanggakan, yakni IPK 4,00, sebelum akhirnya menempuh program doktoral di Universitas Negeri Jakarta.
Selain aktif sebagai aparatur negara dan akademisi, Wahyuning juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan melalui Gerakan Pendidikan Indonesia Baru.
Perempuan kelahiran Tegal, 23 Juli 1976 itu merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahandanya, almarhum Soedharno SK, merupakan pejuang Angkatan 1945 yang pernah bertugas di bawah komando Jenderal Sudirman dan kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tegal. Di tengah kesibukannya, Wahyuning juga menjalankan perannya sebagai ibu dari empat anak dan nenek dari seorang cucu.
Ketua Umum Gerakan Pendidikan Indonesia Baru, Agung Karang, menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas langkah yang ditempuh Wahyuning.
“Selamat menunaikan paparan ilmiah di UUM Malaysia, Mbak Ning. Semoga diberikan kelancaran, keberkahan ilmu, serta menjadi kebanggaan bagi GPIB dan UNJ. Anda membuktikan bahwa pengabdian kepada negara dan semangat menuntut ilmu dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
Usai menjalankan agenda akademiknya di Malaysia, Wahyuning dijadwalkan kembali ke Jakarta pada Rabu malam. Kehadirannya di forum internasional tersebut menjadi bukti bahwa usia dan panjangnya masa pengabdian bukanlah penghalang untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
(Mas Fik)
