Ketenangan Lebih Berharga, Melepas Diri dari Belenggu Materi Juga Merupakan Spirit Sumpah Pemuda

0
file_00000000d99482078ce3004cc4922b5b

JAKARTA, Otoritas.co.id – Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi refleksi penting bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan tidak hanya sebagai kebebasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga setiap individu dari belenggu materi, ambisi berlebihan, serta keterikatan terhadap pola pikir lama.

Pengamat Pertahanan, Dr. Susilawati, M.Han., menegaskan bahwa ketenangan hidup merupakan nilai yang jauh lebih berharga dibandingkan pencapaian materi tanpa batas yang justru dapat menimbulkan tekanan, kecemasan, dan ketakutan kehilangan.

“Ketenangan lebih berharga. Melepaskan diri dari belenggu materi juga merupakan spirit Sumpah Pemuda. Ruang kosong dalam diri itu adalah kebebasan,” ungkap Susilawati, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, semakin banyak materi yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankannya. Kondisi tersebut berpotensi membuat manusia kehilangan kebebasan karena terus dibayangi kekhawatiran terhadap sesuatu yang telah diperoleh.

“Ketika seseorang memiliki materi semakin banyak, urusannya juga bertambah. Muncul ketakutan akan kehilangan dan keharusan mempertahankan semuanya. Akhirnya, manusia justru kehilangan ketenangan dan jati diri dalam menjalani kehidupan,” jelasnya.

Susilawati mengibaratkan kondisi tersebut seperti tangan yang sudah terlalu penuh menggenggam sesuatu sehingga tidak lagi memiliki ruang untuk menerima hal baru.

Perumpamaan itu juga berlaku terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Seseorang yang terus mempertahankan pemikiran lama tanpa membuka diri terhadap pengetahuan baru akan sulit berkembang mengikuti perubahan zaman.

“Ilmu pengetahuan terus berkembang. Kalau pikiran kita masih dipenuhi pemikiran lama dan tidak memberikan ruang bagi pengetahuan baru, maka kita menjadi tidak bebas. Keterikatan seperti inilah yang dapat menghambat kemajuan individu maupun suatu bangsa,” ujarnya.

Ia menilai kehidupan sederhana bukan berarti menolak kemajuan, melainkan kemampuan mengendalikan keinginan agar manusia tidak terjebak dalam ambisi materialistis yang melelahkan.

Menurut Susilawati, ketenangan justru memberikan ruang bagi manusia untuk berpikir jernih, melahirkan kreativitas, serta menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita tidak harus memiliki sesuatu secara berlebihan. Dengan hidup lebih sederhana, kita bisa rileks dan menikmati ketenangan. Dari ketenangan itulah dapat muncul ide serta gagasan yang baik,” tuturnya.

Dalam konteks kebangsaan, Susilawati memandang semangat Sumpah Pemuda perlu dimaknai sebagai keberanian membebaskan diri dari berbagai keterikatan yang menghambat kemajuan, sekaligus memperkuat persatuan dan kesadaran membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

Lebih jauh, ia turut menggagas pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam penyelenggaraan negara sebagai instrumen untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan publik.

Menurutnya, AI berpotensi dikembangkan menjadi sistem yang mampu menganalisis program pemerintah sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil.

“Apakah memungkinkan proses penyelenggaraan negara menggunakan AI? Siapa pun presidennya, ketika memasukkan program kebijakan, sistem dapat menguji apakah program tersebut berpotensi gagal atau bertentangan dengan konstitusi. Sebaliknya, kebijakan yang sesuai aturan dan memiliki perencanaan baik dapat diproses secara terukur dari input, proses, hingga output,” paparnya.

Ia berpandangan, pemanfaatan AI secara tepat berpotensi meningkatkan efisiensi anggaran, transparansi, serta membantu mencegah penyimpangan dan praktik korupsi. Meski demikian, penerapannya tetap memerlukan pengawasan manusia, akuntabilitas, dan mekanisme pengambilan keputusan yang sesuai konstitusi.

Susilawati berharap kemajuan teknologi tidak hanya diarahkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu mengurangi beban persoalan masyarakat sehingga setiap individu memiliki kesempatan menikmati kehidupan yang lebih tenang, aman, dan berkualitas.

Baginya, keberhasilan pembangunan nasional tidak semestinya hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, kekayaan, maupun kemajuan teknologi, tetapi juga melalui kemampuan negara menghadirkan kesejahteraan dan ketenangan bagi rakyatnya.

Dalam semangat Sumpah Pemuda, ia mengajak generasi muda untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga kebebasan berpikir, serta tidak menjadikan pencapaian materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.

“Ruang kosong dalam diri adalah kebebasan. Ketika manusia tidak lagi terbelenggu oleh materi berlebih, ambisi berlebihan, maupun pemikiran lama, akan lahir ketenangan yang membuka ruang bagi kreativitas dan kemajuan. Ketenangan itulah yang sesungguhnya nilai berharga sebagai khas bangsa religi dan spiritual di alam tropis,” pungkas Susilawati.

Saatnya dihilangkan karakter negatif yang menggelayuti setiap insan yang selalu memuja karena takut atau mengharapkan sesuatu pada mereka yang di atas, lalu menghina dan meremehkan mereka yang di bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *