Kepedulian Sosial Bangsa Dinilai Alami Paradoks, Dr. Susilawati, M.Han Soroti Pentingnya Mengutamakan Kepentingan Nasional

JAKARTA, OTORITAS — Pengamat sosial dan kebangsaan, Dr. Susilawati, M.Han menyoroti fenomena yang dinilainya sebagai paradoks dalam pola kepedulian sosial masyarakat Indonesia. Menurutnya, masyarakat kerap menunjukkan antusiasme tinggi dalam membantu warga negara lain atau isu kemanusiaan di luar negeri, namun masih kurang peka terhadap persoalan sosial di lingkungan sendiri.
Dalam keterangannya, Dr. Susilawati menilai semangat solidaritas internasional masyarakat Indonesia sebenarnya patut diapresiasi. Namun di sisi lain, ia mempertanyakan mengapa kepedulian serupa belum maksimal diberikan kepada sesama anak bangsa yang masih banyak hidup dalam kesulitan ekonomi.
“Fenomena ini menjadi semacam paradoks sosial. Ketika ada tragedi atau persoalan kemanusiaan di negara lain, masyarakat Indonesia sangat cepat bergerak membantu. Padahal di dalam negeri sendiri masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan bantuan,” ujarnya.
Ia mengatakan, membantu masyarakat di luar negeri tentu bukan hal yang salah. Bahkan menurutnya hal itu menunjukkan tingginya rasa kemanusiaan bangsa Indonesia. Namun, kepedulian terhadap masyarakat sekitar juga harus menjadi prioritas bersama.
“Kalau bangsa lain yang jauh saja bisa dibantu, yang tentu membutuhkan biaya besar dan perjuangan lebih berat, seharusnya membantu masyarakat sekitar yang lebih dekat dan mudah dilakukan juga bisa menjadi budaya bersama,” tambahnya.
Selain itu, Dr. Susilawati menegaskan bahwa semangat mengutamakan kepentingan nasional harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kekuatan sebuah bangsa dimulai dari kemampuan masyarakatnya untuk saling memperkuat dari dalam.
“Semangat mengutamakan kepentingan nasional harus menjadi prioritas. Jika bangsa ini sudah kuat dari dalam, maka Indonesia akan lebih siap menghadapi berbagai dinamika global,” tegasnya.
Ia menilai, persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga kesejahteraan masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan sangat dibutuhkan.
Menurutnya, budaya saling membantu antarwarga harus kembali diperkuat sebagai bagian dari karakter bangsa Indonesia. Kepedulian sosial, kata dia, dapat dimulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga, tetangga, hingga komunitas sekitar.
“Jangan sampai rasa empati kita justru lebih besar kepada yang jauh, sementara di sekitar kita masih banyak saudara sebangsa yang hidup kesulitan tetapi luput dari perhatian,” katanya.
Ia berharap masyarakat Indonesia dapat membangun keseimbangan dalam semangat kemanusiaan, baik untuk membantu masyarakat global maupun memperhatikan kondisi sosial di dalam negeri. Dengan demikian, semangat gotong royong yang selama ini menjadi identitas bangsa dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat. (**)
