Kementerian PU Siapkan Empat Ruas Tol Berfungsi Ganda sebagai Landasan Darurat Pesawat Tempur

JAKARTA, OTORITAS.co.id– Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto melalui pembangunan infrastruktur yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat sistem pertahanan nasional.
Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah pemanfaatan sejumlah ruas jalan tol sebagai landasan darurat pesawat tempur TNI Angkatan Udara (TNI AU) dalam kondisi tertentu. Konsep ini mengusung fungsi ganda atau dual use, sehingga jalan tol tetap dapat digunakan untuk transportasi masyarakat dalam kondisi normal, namun dapat dialihfungsikan untuk kepentingan pertahanan saat negara menghadapi situasi darurat.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur nasional harus memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, tetapi juga untuk meningkatkan kesiapsiagaan nasional. Ia menyebut pemanfaatan ruas tol sebagai landasan darurat menunjukkan bahwa infrastruktur yang dibangun Kementerian PU memiliki fungsi ganda untuk mendukung mobilitas, logistik, dan kesiapsiagaan nasional.

Saat ini terdapat empat ruas jalan tol yang dipersiapkan sebagai landasan darurat pesawat tempur TNI AU, yakni Jalan Tol Banda Aceh–Sigli, Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japek II Selatan), Jalan Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka), dan Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi.
Keempat ruas tersebut dirancang dengan spesifikasi teknis yang memungkinkan pesawat tempur melakukan pendaratan maupun lepas landas dalam situasi darurat tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai jalan tol. Dody menjelaskan bahwa lintasan pada Jalan Tol Banda Aceh–Sigli yang saat ini memiliki panjang sekitar 2,8 kilometer akan diperpanjang sekitar 1 kilometer. Sementara itu, lintasan di Jalan Tol Japek II Selatan akan diperpanjang dari sekitar 2,8 kilometer menjadi 3,5 kilometer. Adapun di Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi disiapkan lintasan sepanjang 3 hingga 3,5 kilometer.
Menurut Dody, Jalan Tol Banda Aceh–Sigli menjadi salah satu proyek yang terus dipersiapkan agar sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mendukung operasi TNI AU. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi normal ruas tersebut tetap digunakan sebagai jalan tol, namun dalam kondisi darurat dapat dibuka dan dimanfaatkan untuk pendaratan maupun lepas landas pesawat tempur TNI AU.
Kesiapan konsep tersebut telah dibuktikan melalui uji coba pendaratan dan lepas landas pesawat tempur TNI AU di Jalan Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung pada 11 Februari 2026. Uji coba berlangsung di segmen Gerbang Tol Lambu Kibang hingga Gerbang Tol Simpang Pematang, tepatnya di ruas KM 228 hingga KM 231.
Dalam simulasi tersebut, dua pesawat tempur TNI AU, yakni EMB-314 Super Tucano dan F-16, berhasil melakukan pendaratan dan lepas landas dengan aman. Uji coba ini menjadi tonggak sejarah sebagai pendaratan pesawat tempur pertama yang dilakukan di ruas jalan tol di Indonesia.
Keberhasilan simulasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan jalan tol di Indonesia kini tidak hanya berorientasi pada peningkatan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dirancang untuk mendukung kepentingan strategis negara melalui penguatan sistem pertahanan nasional.
Konsep infrastruktur multifungsi ini diharapkan dapat mengoptimalkan investasi negara sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan nasional sekaligus meningkatkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai kondisi darurat. (Alexander)
