Emisi Gas Rumah Kaca dan El Niño Jadi Penyebab Utama Perubahan Iklim 2026

Jakarta, Otoritas.co.id – Perubahan iklim global pada tahun 2026 semakin menunjukkan dampak serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, kekeringan panjang, banjir, hingga ancaman krisis pangan disebut dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia serta potensi fenomena El Niño yang mulai menguat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya kecenderungan transisi menuju fenomena El Niño pada semester kedua tahun 2026 dengan peluang antara 50 hingga 80 persen. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal.
BMKG menjelaskan bahwa perubahan iklim terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O) di atmosfer bumi. Gas-gas tersebut berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas industri, kendaraan bermotor, peternakan, hingga penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
“Masalah muncul saat aktivitas manusia meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca secara berlebihan yang menyebabkan pemanasan global dan akhirnya memicu perubahan iklim,” tulis BMKG dalam publikasi Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri.
Selain emisi karbon, kerusakan hutan dan pembukaan lahan secara masif juga dinilai memperparah kondisi iklim global. Berkurangnya kawasan hutan menyebabkan kemampuan bumi menyerap karbon dioksida semakin menurun sehingga suhu bumi terus meningkat.
Dalam laporan Climate Outlook 2026, BMKG menyebut dinamika atmosfer dan laut global menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi iklim sepanjang tahun ini. Prediksi tersebut disusun berdasarkan pemodelan atmosfer-laut, fenomena ENSO (El Niño Southern Oscillation), serta perubahan suhu permukaan laut global.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sebelumnya juga mengingatkan bahwa fenomena El Niño berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia. Bahkan, jumlah titik panas pada awal April 2026 dilaporkan mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pengamat lingkungan menilai perubahan iklim kini tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan sudah dirasakan secara nyata oleh masyarakat melalui perubahan pola musim, meningkatnya suhu udara, hingga bencana hidrometeorologi yang lebih sering terjadi.
Dampak perubahan iklim juga mulai mengancam sektor pangan dan kesehatan masyarakat. Cuaca yang tidak menentu berpotensi menyebabkan gagal panen, krisis air bersih, serta meningkatnya risiko penyakit akibat suhu panas ekstrem dan kualitas lingkungan yang menurun.
Sejumlah ilmuwan iklim internasional turut memperingatkan bahwa pemanasan suhu permukaan laut global dapat memperparah intensitas badai tropis, hujan ekstrem, dan gelombang panas di berbagai belahan dunia.
Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, pemerintah dan masyarakat didorong memperkuat langkah mitigasi melalui pengurangan emisi karbon, penggunaan energi terbarukan, penghijauan, pengelolaan sampah yang lebih baik, serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.
Masyarakat juga diimbau mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan seperti menghemat energi listrik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan transportasi umum, dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar sebagai langkah sederhana menekan laju pemanasan global. (**)
