Dr. Susilawati: Bangsa yang Kuat Tidak Harus Dibentuk Melalui Penderitaan, Negara Harus Menjamin Kualitas Hidup Rakyat
JAKARTA, OTORITAS.co.id – Pengamat Pertahanan, Dr. Susilawati, M.Han., menyoroti pola kehidupan masyarakat Indonesia yang dinilainya masih kerap diwarnai tekanan, kesulitan, dan berbagai persoalan yang sebenarnya dapat dicegah. Menurutnya, membangun bangsa yang tangguh tidak harus dilakukan dengan menciptakan penderitaan atau membiarkan masyarakat terus berada dalam situasi penuh tekanan.
“Bangsa yang kuat bukan berarti masyarakatnya harus terus-menerus menghadapi kesulitan, apalagi kesulitan yang sengaja diciptakan. Ketangguhan seharusnya tumbuh secara alami melalui pengalaman hidup, bukan melalui tekanan, manipulasi, atau perlakuan yang justru melemahkan kualitas kehidupan,” ujar Susilawati, Selasa (20/10/2026).
Ia menilai terdapat pola pikir yang perlu dikoreksi dalam kehidupan bermasyarakat, yakni anggapan bahwa seseorang harus mengalami penderitaan terlebih dahulu untuk menjadi pribadi yang kuat. Pandangan tersebut, menurutnya, berpotensi melahirkan siklus perlakuan tidak sehat yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Orang yang terbiasa menghadapi kesulitan akibat tindakan pihak lain terkadang justru mengulangi pola yang sama kepada generasi berikutnya. Rantai seperti ini harus diputus. Jangan sampai penderitaan dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan diapresiasi atas nama pembentukan mental,” tegasnya.
Susilawati menjelaskan bahwa masyarakat sipil semestinya dapat menjalani kehidupan secara lebih tenang, aman, dan produktif. Negara perlu menghadirkan lingkungan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya, berkreasi, serta menghasilkan inovasi tanpa dibebani tekanan sosial yang tidak diperlukan.
Menurutnya, prinsip utama kehidupan bermasyarakat adalah menaati aturan, menghormati hak orang lain, dan menjaga ketertiban umum. Dengan demikian, setiap individu memiliki kesempatan mengembangkan potensi serta meningkatkan kesejahteraan melalui kemampuan dan kreativitasnya.
“Biarkan masyarakat menikmati kehidupannya, bekerja, berkarya, dan berinovasi. Kalau memang ada tantangan, tentu harus dihadapi. Tetapi jangan sampai kesulitan justru sengaja diciptakan dengan alasan untuk membentuk manusia yang lebih kuat,” katanya.
Ia juga menyinggung berbagai persoalan publik, termasuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai pengingat bahwa persoalan yang berpotensi membahayakan masyarakat seharusnya diantisipasi melalui pengawasan dan pencegahan yang optimal.
Susilawati mengingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meninggalkan dampak psikologis yang memengaruhi perjalanan hidup seseorang. Karena itu, pembangunan nasional tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian ekonomi dan ketangguhan menghadapi tantangan, tetapi juga pada kesehatan mental, ketenangan, serta kebahagiaan masyarakat.
“Jangan sampai orientasi kehidupan bangsa justru dipenuhi pengalaman traumatis. Ketika mental seseorang terus-menerus mengalami tekanan, proses pemulihannya tidak selalu mudah dan dapat memengaruhi kualitas hidupnya dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam budaya hidup yang selalu tergesa-gesa mengejar pencapaian dan pengakuan dari pihak luar.
Menurutnya, keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur melalui materi, kedudukan, ataupun kemampuan bertahan dalam penderitaan, melainkan juga melalui kemampuan menikmati proses kehidupan secara sehat dan bermakna.
“Kita sering terlalu terburu-buru mengejar sesuatu, padahal tidak semua hal harus dikejar dengan penuh tekanan. Nikmatilah setiap waktu yang berjalan karena di situlah sesungguhnya kehidupan kita berlangsung,” tuturnya.
Susilawati menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa seharusnya dimaknai sebagai kesempatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih manusiawi, bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi berbagai kesulitan.
“Indonesia sudah merdeka. Sudah saatnya kita membangun masyarakat yang lebih tenang, bahagia, kreatif, dan produktif. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu menghadapi ancaman, tetapi juga bangsa yang mampu menghadirkan kehidupan yang layak dan bermartabat bagi rakyatnya,” pungkasnya.
Bahwa semangat untuk menjatuhkan orang lain daripada memberi solusi harus diakhiri, bangsa beradab mengedepankan penghormatan nilai kemanusiaan yang tinggi
