Dr. Susilawati M.Han.: 23 Tahun Mengabdi di Partai Demokrat, Politik Harus Berorientasi pada Pengabdian, Bukan Kekuasaan

Jakarta, Otoritas.co.id – Dua puluh tiga tahun perjalanan sebagai kader Partai Demokrat menjadi bukti konsistensi Dr. Susilawati, M.Han. dalam mengabdikan diri di dunia politik. Bagi Susilawati, politik bukan sekadar ruang untuk meraih jabatan, melainkan wadah untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan membangun kehidupan nasional yang lebih baik.
Selama lebih dari dua dekade, ia mengaku telah melalui berbagai dinamika perjuangan, mulai dari keberhasilan hingga berbagai tantangan yang menguji komitmennya. Namun, seluruh pengalaman tersebut justru semakin menguatkan tekadnya untuk tetap berada di jalur pengabdian.
“Selama 23 tahun bersama Partai Demokrat, saya mengalami suka dan duka. Ada kesempatan yang belum berhasil saya raih, ada perjuangan yang harus saya lalui dengan penuh kesabaran. Namun, semua itu tidak membuat saya berhenti berjuang. Saya tetap memilih untuk menyebarkan kebaikan dan memberikan kontribusi bagi bangsa,” ujar Susilawati.
Selama perjalanan politiknya, Susilawati telah tiga kali mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI melalui Partai Demokrat. Baginya, setiap kontestasi politik merupakan proses pembelajaran dan pengabdian, bukan sekadar mengejar kemenangan ataupun jabatan.
Pada salah satu proses pencalonan legislatif tahun 2007, ia mengaku sempat memenuhi ketentuan yang berlaku untuk memperoleh kesempatan maju. Namun, dinamika politik yang terjadi membuat peluang tersebut akhirnya tidak berpihak kepadanya. Kendati demikian, pengalaman tersebut tidak mengurangi loyalitasnya terhadap partai maupun semangatnya untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.
Selain itu, pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara Tahun 2018, Susilawati juga mengikuti proses penjaringan bakal calon Gubernur yang diselenggarakan oleh DPD Partai Demokrat Sumatera Utara. Dalam proses tersebut, ia mengikuti tahapan verifikasi dan penyampaian visi pembangunan dengan mengusung program yang berfokus pada pembangunan karakter masyarakat serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di Sumatera Utara. Meski belum ditetapkan sebagai calon resmi, ia memandang proses tersebut sebagai bagian dari pengabdian dan kontribusi pemikiran bagi daerah.
Tak hanya aktif dalam politik praktis, Susilawati juga terus meningkatkan kapasitas akademik dan kepemimpinannya. Ia menempuh pendidikan di Universitas Pertahanan Republik Indonesia hingga jenjang magister dan melanjutkan pendidikan doktoral sebagai bentuk komitmennya dalam memperkuat wawasan strategis mengenai pembangunan nasional. Selain itu, ia juga mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas RI) sebagai bekal memperdalam perspektif mengenai kepemimpinan, ketahanan nasional, serta tata kelola pemerintahan.
Dalam perjalanan politiknya, Susilawati juga pernah mengikuti proses pencalonan sebagai Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Baginya, seluruh proses tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa melalui berbagai bidang pengabdian.
Hingga saat ini, Susilawati masih aktif sebagai kader Partai Demokrat dan dipercaya oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk mengemban amanah di Departemen Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Menurutnya, pembangunan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia meyakini bahwa kesejahteraan bangsa hanya dapat dicapai apabila masyarakat dibangun dengan karakter yang kuat, disiplin, serta memiliki integritas.
“Pejabat pada hakikatnya berasal dari rakyat. Jika rakyat dibangun dengan karakter yang baik, tertib, dan memiliki integritas, maka ketika mereka memegang jabatan, orientasinya bukan lagi mengejar kekuasaan, melainkan menata tata kelola negara demi kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Susilawati juga menyoroti kondisi kehidupan berbangsa saat ini yang menurutnya masih didominasi oleh orientasi perebutan kekuasaan. Padahal, Indonesia memiliki karakter sebagai bangsa yang religius, menjunjung ketenangan, ketertiban, keamanan, dan kedamaian. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hasil dari proses kaderisasi yang seharusnya lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter pemimpin yang berorientasi melayani masyarakat.
Ia menilai bahwa kekhawatiran yang berlebihan terhadap kepentingan politik masa depan sering kali membuat banyak pihak mengabaikan kebutuhan masyarakat pada masa kini. Karena itu, sistem pengkaderan politik harus diarahkan untuk melahirkan pemimpin yang memiliki semangat pengabdian, bukan sekadar ambisi mempertahankan atau merebut kekuasaan.
“Perbedaan mendasar antara pejabat yang mengejar kekuasaan dengan mereka yang benar-benar ingin membangun kehidupan nasional terletak pada orientasinya. Pemimpin sejati fokus menata kehidupan masyarakat, bukan mempertahankan kekuasaan. Inilah yang harus menjadi hasil dari proses pengkaderan politik,” jelasnya.
Di luar aktivitas politik, Susilawati terus aktif menulis buku dan menyampaikan gagasan melalui berbagai media massa sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia berharap pengalaman dan perjuangannya selama 23 tahun dapat menjadi inspirasi bahwa konsistensi, integritas, dan pengabdian merupakan modal utama dalam membangun demokrasi yang sehat.
“Semoga perjuangan yang selama ini saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi Partai Demokrat khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Politik harus menjadi sarana melahirkan kader bangsa yang berintegritas, mampu menjaga kepentingan rakyat, serta menghadirkan kehidupan nasional yang lebih tertib, damai, dan sejahtera,” ungkapnya.
Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrat ke-25 yang diperingati pada 9 September 2026, Dr. Susilawati, M.Han. mengajak seluruh kader untuk menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi atas perjalanan panjang Partai Demokrat dalam mengawal demokrasi, memperjuangkan aspirasi rakyat, dan membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Menurutnya, usia 25 tahun merupakan tonggak penting untuk semakin memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat di tengah berbagai tantangan bangsa.
Ia menegaskan, Partai Demokrat harus terus mempertahankan jati dirinya sebagai partai yang mengedepankan kepentingan rakyat, melahirkan kader-kader yang berintegritas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan. Baginya, proses kaderisasi harus menghasilkan pemimpin yang berorientasi pada pelayanan publik, bukan semata-mata mengejar kekuasaan.
Menutup pernyataannya, Dr. Susilawati, M.Han. menyampaikan ucapan selamat kepada Partai Demokrat yang akan memperingati Hari Ulang Tahun ke-25 pada 9 September 2026. Ia berharap partai yang telah menjadi rumah perjuangannya selama 23 tahun itu terus konsisten menjaga nilai-nilai demokrasi, memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia, serta mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan kekuasaan.
“Selamat Hari Ulang Tahun Partai Demokrat ke-25, 9 September 2026. Dua puluh lima tahun telah bersama rakyat. Semoga Partai Demokrat terus menjadi rumah perjuangan bagi kader-kader yang berintegritas, menjaga demokrasi, mengutamakan kepentingan rakyat, serta terus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang aman, damai, adil, dan sejahtera. Dirgahayu Partai Demokrat, teruslah bersama rakyat dan terus mengabdi untuk Indonesia,” tutup Dr. Susilawati, M.Han.
(**)
