12 Juni 2026

Pemerintah Perlu Mengkaji Faktor Penghambat Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia

0
file_0000000010b8720b97a918210441a9e3

Jakarta, Otoritas.co.id – Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Susilawati, M.Han, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai faktor yang memengaruhi daya tarik pariwisata Indonesia di mata wisatawan mancanegara. Evaluasi tersebut dinilai penting agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara tujuan wisata utama di Asia, termasuk Jepang.

Menurut Dr. Susilawati, Indonesia memiliki modal pariwisata yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pemerataan kunjungan wisatawan asing ke berbagai daerah di Indonesia.

“Saya menyoroti perbedaan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Jepang yang terus meningkat, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan dan mendistribusikan kunjungan wisata secara merata. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah,” ujarnya.

Berdasarkan data Japan National Tourism Organization (JNTO), Jepang mencatat sekitar 42,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2025, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2025 terus mengalami peningkatan, meskipun belum mencapai potensi maksimal yang dimiliki Indonesia.

Dr. Susilawati menilai bahwa kajian terhadap hambatan kunjungan wisatawan perlu dilakukan secara objektif dan berbasis data. Selain faktor infrastruktur, aksesibilitas, kebersihan, keamanan, promosi, dan kualitas pelayanan, menurutnya perlu diteliti pula apakah terdapat aspek lain yang memengaruhi kenyamanan wisatawan, termasuk kemudahan transaksi dan pemahaman terhadap sistem mata uang.

“Apakah besarnya nominal dalam mata uang rupiah dapat menjadi salah satu faktor yang menimbulkan kebingungan bagi sebagian wisatawan asing saat melakukan konversi nilai tukar? Ini bukan kesimpulan, melainkan sebuah pertanyaan kebijakan yang memerlukan penelitian lebih lanjut,” katanya.

Lebih jauh, Dr. Susilawati menegaskan bahwa wajah pariwisata Indonesia tidak boleh hanya dipersepsikan terbatas pada satu destinasi saja.

“Indonesia memiliki wilayah geografis yang sangat luas dengan kekayaan destinasi wisata yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pariwisata Indonesia tidak semata-mata berada di Bali, tetapi hidup dan berkembang di seluruh provinsi yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri,” tegasnya.

Ia mencontohkan, Provinsi Maluku, khususnya Kota Ambon yang dikenal sebagai Kota Musik Dunia versi UNESCO, memiliki potensi besar melalui kreativitas seni dan budaya musik masyarakatnya. Sementara Sumatera Utara memiliki Danau Toba, salah satu danau vulkanik terbesar di dunia yang berada di kawasan Tanah Batak dengan kekayaan budaya masyarakat yang unik, termasuk sistem marga yang menjadi identitas keluarga dan bagian penting dari warisan sosial budaya.

Selain itu, terdapat kekayaan budaya dan alam lainnya seperti keindahan Raja Ampat di Papua, tradisi masyarakat Nusa Tenggara, keragaman budaya di Sulawesi, pesona Kalimantan dengan hutan tropisnya, hingga berbagai situs sejarah dan kuliner khas di Pulau Jawa.

“Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita, budaya, tradisi, dan daya tariknya sendiri. Potensi ini harus diangkat secara merata melalui strategi promosi yang terintegrasi sehingga wisatawan tidak hanya mengenal satu atau dua destinasi saja,” ujarnya.

Menurut Dr. Susilawati, posisi Indonesia sebagai negara tropis juga menjadi keunggulan kompetitif yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Indonesia sebagai negara tropis dapat menjadi tujuan wisata dunia sepanjang masa. Iklim yang relatif hangat sepanjang tahun memungkinkan wisatawan berkunjung kapan saja tanpa terlalu terpengaruh perubahan musim seperti di negara empat musim,” katanya.

Ia juga menilai bahwa dari sisi biaya, Indonesia relatif kompetitif dibandingkan sejumlah negara tujuan wisata lainnya.

“Selain menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya, biaya hidup dan biaya perjalanan di Indonesia pada umumnya masih cukup terjangkau bagi wisatawan mancanegara. Ditambah lagi dengan karakter masyarakat Indonesia yang dikenal ramah dan terbuka terhadap para tamu dari berbagai negara,” tambahnya.

Meski demikian, Dr. Susilawati mengingatkan bahwa keramahan masyarakat dan kekayaan destinasi harus didukung oleh kebijakan yang tepat.

“Pemerintah perlu memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, menyederhanakan layanan bagi wisatawan, serta memastikan aspek kebersihan, keamanan, dan kenyamanan menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Menurutnya, sektor pariwisata memiliki efek berganda yang sangat besar terhadap perekonomian nasional karena mampu menggerakkan pelaku UMKM, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan menambah devisa negara.

“Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan dunia. Yang diperlukan adalah keseriusan dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu memperkenalkan seluruh kekayaan Nusantara kepada masyarakat internasional,” pungkas Dr. Susilawati.

Indonesia memiliki 38 provinsi dengan keragaman budaya, bahasa, tradisi, dan destinasi wisata yang dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan pariwisata nasional. Kekayaan tersebut merupakan modal besar yang perlu didukung melalui pemerataan pembangunan infrastruktur, promosi yang tepat sasaran, serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Pariwisata Indonesia harus dibangun dengan semangat pemerataan. Dunia perlu mengenal Indonesia bukan hanya karena Bali, tetapi karena seluruh kekayaan Nusantara yang dimiliki bangsa ini. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi destinasi wisata dunia yang berdaya saing tinggi dan memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh daerah,” tutup Dr. Susilawati.

(**)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    https://staging-clanstvo.fksarajevo.ba/

    http://help.neteye.co/article/instalacao-neteye/

    https://www.ionametalindustri.co.id/

    https://cihef.org/domaine-dactivites/

    https://tongsis.ukmfriset.or.id/

    https://www.ukmfriset.or.id/707/

    https://www.guiamaster.com.ar/rubros/taxis

    https://gte.co.id/idn/

    https://cartel.ua/

    https://smpn1mejayan.sch.id/galeri/berprestasi-2/

    https://nationalsportscamps.in/

    https://chungtee.co.th/

    https://csi-movie.com/

    https://duncanscoins.org/

    https://hipstermag.org/

    https://pedodonti.nu/

    https://www.duniamusso.org/

    https://progate.me/

    https://pediaafrica.org/

    https://evergreengardensuk.co.uk/

    https://artios.com.br/

    https://vam-prodam.ru/business-tariffs

    https://dev.architype.pl/

    https://alice.ixup.com/

    https://jurnal.yoctobrain.org/index.php/ijodas/

    https://www.nijpcr.nou.edu.ng/

    https://tic.wonogirikab.go.id/

    https://shambhuholdings.com/governance.html

    https://yoctobrain.org/

    https://ta.pp.ru/

    https://kharkiv-nuau.hneu.edu.ua/

    https://convergence.asaindia.org/

    https://cefid.edu.do/historia.php

    https://halosimetri.com/projects/

    https://mk-gracia.ru/kompaniya/

    https://bib.aseba.org/