UNJ–UTHM Perkuat Kepemimpinan Pendidikan dan Literasi AI Menuju Future School

MALAYSIA, OTORITAS.co.id — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, AI membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan terkait etika, integritas akademik, perlindungan data, hingga perubahan peran guru dan pemimpin pendidikan.
Merespons perkembangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berkolaborasi dengan Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) menyelenggarakan kegiatan bertema “Building Effective Educational Leadership for Future School”.
Kegiatan berlangsung pada 22 Juni 2026 di Perpustakaan Tunku Tun Aminah, UTHM, Parit Raja, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kompetensi kepemimpinan pendidikan sekaligus meningkatkan literasi AI agar pemanfaatan teknologi dapat dilakukan secara etis, bertanggung jawab, dan tetap berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Transformasi digital menjadi salah satu latar belakang penting pelaksanaan kegiatan. AI kini telah dimanfaatkan untuk memperoleh informasi, mengembangkan materi pembelajaran, menyusun asesmen, hingga mendukung pembelajaran yang lebih terdiferensiasi.
Namun, perkembangan tersebut juga membawa sejumlah risiko, mulai dari plagiarisme, bias algoritma, persoalan privasi dan perlindungan data, hak cipta, ketergantungan terhadap teknologi, hingga potensi menurunnya kemampuan berpikir kritis apabila AI digunakan tanpa pemahaman dan literasi yang memadai.
Dalam situasi tersebut, pemimpin pendidikan memiliki posisi strategis. Kepemimpinan sekolah tidak lagi hanya berfokus pada aspek administratif dan manajerial, tetapi juga dituntut mampu mengelola perubahan, membangun visi digital, menciptakan budaya organisasi yang adaptif, serta memastikan penggunaan teknologi tetap sejalan dengan prinsip etika dan tujuan pendidikan.
Sejumlah konsep kepemimpinan menjadi bagian dari materi kegiatan, antara lain Strategic Educational Leadership, Leadership in VUCA Environment, Mindful Leadership, Ethical Leadership, Distributed Leadership, dan Agile School Management.
Konsep-konsep tersebut memberikan perspektif kepada peserta mengenai pentingnya kepemimpinan yang adaptif dalam menghadapi lingkungan yang volatile, uncertain, complex, dan ambiguous (VUCA).
Penguatan kepemimpinan juga diintegrasikan dengan literasi AI. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk memahami fungsi dan keterbatasan AI, mengevaluasi hasil yang dihasilkan secara kritis, serta mempertimbangkan dampak etika dan sosial sebelum teknologi diterapkan dalam lingkungan pendidikan.
Salah satu prinsip yang ditekankan adalah human-centered AI, yaitu menempatkan manusia sebagai pusat dalam pemanfaatan teknologi. Dalam perspektif tersebut, AI diposisikan sebagai alat untuk mendukung profesionalisme pendidik, bukan menggantikan peran guru maupun pemimpin pendidikan.
Keputusan terkait proses pembelajaran tetap membutuhkan pertimbangan manusia, terutama dalam hal integritas akademik, kepentingan peserta didik, privasi, transparansi, serta akuntabilitas.
Pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif berbasis capacity building. Selain ceramah interaktif, kegiatan juga memanfaatkan Problem-Based Learning (PBL), diskusi kelompok, presentasi, dan refleksi.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong menjadi pembelajar aktif dengan menghubungkan materi yang diperoleh dengan berbagai persoalan nyata dalam dunia pendidikan.
Dalam sesi PBL, peserta menganalisis sejumlah studi kasus terkait penggunaan AI di lingkungan sekolah. Mereka diarahkan untuk mengidentifikasi persoalan, memetakan manfaat dan risiko, mempertimbangkan kepentingan para pemangku kepentingan, menyusun alternatif penyelesaian, hingga merumuskan rekomendasi penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Hasil analisis kemudian dipresentasikan dan didiskusikan untuk mendapatkan umpan balik sekaligus memperkaya perspektif peserta.
Pendekatan tersebut memperluas pembahasan dari sekadar “bagaimana menggunakan AI” menjadi persoalan yang lebih strategis, yakni “bagaimana memimpin dan mengelola penggunaan AI secara bertanggung jawab.”
Dengan demikian, teknologi dipandang sebagai bagian dari keputusan kepemimpinan pendidikan yang harus mempertimbangkan tujuan pedagogis, manfaat, risiko, aspek etika, serta kepentingan manusia.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan keterlibatan aktif melalui diskusi dan presentasi kelompok. Pembahasan mempertemukan dua isu utama, yakni pentingnya pemimpin pendidikan merespons perubahan melalui kepemimpinan yang strategis, adaptif, dan beretika serta bagaimana mengoptimalkan manfaat AI tanpa mengabaikan persoalan integritas akademik, privasi, bias, dan akuntabilitas.
Kolaborasi UNJ dan UTHM juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara akademisi dari kedua institusi. Kerja sama tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan program lanjutan, baik dalam bentuk pelatihan, penyediaan bahan ajar digital, publikasi ilmiah, penelitian, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui program Building Effective Educational Leadership for Future School, UNJ dan UTHM menegaskan pentingnya mempersiapkan pemimpin pendidikan yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis serta mengambil keputusan secara etis.
Future School pada akhirnya bukan sekadar sekolah yang semakin digital, melainkan sekolah yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab, dengan tetap menempatkan manusia dan kualitas pendidikan sebagai pusat transformasi.
(Red)
