Dr. Susilawati, M.Han: Kabut Asap Membahayakan Jiwa Manusia akibat Mengejar Ekonomi Tanpa Batas

Jakarta, Otoritas.co.id – Dr. Susilawati, M.Han, pengamat pertahanan, menilai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi peringatan serius terhadap pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, hutan memiliki fungsi ekologis penting bagi kehidupan. Alih fungsi hutan demi kepentingan ekonomi tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat.
Sorotan ini juga relevan dengan informasi citra satelit NASA yang menunjukkan sebaran gas karbon monoksida di wilayah Indonesia. Gas tidak berwarna dan tidak berbau ini dapat menghambat distribusi oksigen dalam tubuh. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko menyebabkan sakit kepala, pusing, sesak napas, kehilangan kesadaran, hingga kematian.
Susilawati juga menyoroti laporan mengenai petugas dan relawan yang terjebak dalam karhutla, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa manusia.
Ia mengingatkan bahwa negara harus mengutamakan perlindungan warga, bukan semata-mata mengejar keuntungan ekonomi, baik untuk kepentingan pribadi, kelompok, maupun atas nama pembangunan nasional.
“Negara sejatinya didirikan untuk melindungi seluruh warga negara dari berbagai ancaman yang membahayakan jiwanya. Jangan sampai atas nama kemajuan ekonomi, masyarakat justru menjadi korban kerusakan lingkungan,” tegasnya.
Susilawati menambahkan, Indonesia tidak harus meniru pola pembangunan negara lain. Bangsa ini perlu membangun model pembangunan yang mengutamakan keseimbangan, pengendalian diri, kelestarian alam sebagai negara tropis.
Perlu dibangun karakter patriot di setiap diri anak bangsa (kesadaran berbangsa dan bernegara) agar saat diberi amanah dapat dipercaya bukan semata dipercaya oleh yang memberi jabatan tetapi juga oleh rakyat sebagai user dalam kehidupan nasional
Menurutnya, kemajuan ekonomi harus memiliki batas dan diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan mengorbankan keselamatan manusia serta keberlanjutan lingkungan.
Jika seluruh sektor kehidupan dikonversi dengan nilai ekonomi maka akan semakin berat dan mahal kehidupan ditopang berujung kolaps sejatinya kehidupan berjalan di atas keseimbangan alam.
“Kemajuan ekonomi tanpa batas justru dapat menjadi ancaman bagi kehidupan. Indonesia harus mampu menentukan arah pembangunan yang bijaksana, melindungi rakyat, dan menjaga lingkungan demi generasi mendatang,” pungkasnya.
Kepemimpinan dalam pemerintahan sejatinya berorientasi pada stabilitas (Hukum tidak ditarik ke politik, Politik tidak ditarik ke bisnis, semua harus berada di ruangnya masing-masing) dalam mewujudkan tujuan kehidupan bernegara karena hal ini terkait dengan keselamatan jiwa masyarakat bangsa, sangat besar pertanggung jawabannya.
