Dr. Susilawati M.Han: Indonesia Tidak Perlu Meniru Gaya Hidup Negara Empat Musim 100℅

JAKARTA, OTORITAS.co.id — Pengamat Pertahanan Dr. Susilawati M.Han menilai Indonesia tidak perlu meniru pola kehidupan negara-negara empat musim karena memiliki karakter geografis, sosial, budaya dan sumber daya alam yang berbeda. Menurutnya, Indonesia sebagai negara tropis sekaligus bangsa yang memiliki kekuatan nilai religi dan spiritual seharusnya mampu membangun konsep kehidupan yang lebih sesuai dengan karakter masyarakatnya sendiri.
Susilawati mengatakan, negara-negara yang memiliki empat musim memang menghadapi tantangan alam yang berbeda. Pergantian musim membuat masyarakat di negara tersebut harus mempersiapkan berbagai kebutuhan, termasuk mengembangkan teknologi dan sistem kehidupan untuk menghadapi perubahan kondisi cuaca. Namun, situasi tersebut tidak sepenuhnya relevan apabila diterapkan di Indonesia.
“Jangan mengikuti karakter negara empat musim karena karakter dan kebutuhannya berbeda. Indonesia berada di wilayah tropis, sehingga sebenarnya banyak kebutuhan dasar kehidupan sudah tersedia di lingkungan kita,” ujar Susilawati.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan berupa iklim tropis dan kekayaan sumber daya alam yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan secara lebih sederhana, tenang dan berkualitas sepanjang masa. Karena itu, ia menilai arah pembangunan nasional perlu disesuaikan dengan kondisi nyata Indonesia, bukan sekadar mengikuti ukuran kemajuan yang berkembang di negara lain.
Susilawati menyebut Indonesia seharusnya tidak terjebak dalam pola hidup yang membuat masyarakat terus berada dalam kondisi “survival” hanya demi mengejar standar kemajuan tertentu. Ia justru mendorong agar masyarakat dapat memanfaatkan potensi yang tersedia di dalam negeri dan membangun kualitas kehidupan berdasarkan kebutuhan sendiri.
Ia juga menyoroti pola konsumsi masyarakat yang menurutnya perlu disesuaikan dengan karakter Indonesia sebagai negara tropis dan negara kepulauan. Masyarakat, kata Susilawati, tidak perlu merasa rendah diri apabila tidak mampu mengonsumsi daging dalam jumlah banyak atau makanan yang dianggap sebagai simbol kemakmuran.
Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai sumber pangan yang tidak kalah bernilai, mulai dari sayuran, hasil pertanian hingga kekayaan laut seperti ikan, udang dan kerang. Selain itu, tahu, tempe dan telur menjadi sumber pangan yang mudah diperoleh masyarakat.
“Bagi masyarakat yang tidak pernah atau tidak selalu makan daging, jangan berkecil hati. Kita memiliki sayuran, hasil laut seperti ikan, udang dan kerang, serta tahu, tempe dan telur. Kalau semuanya diolah dengan baik, sebenarnya kehidupan kita sudah cukup dan sangat baik,” katanya.
Susilawati menilai masyarakat tidak perlu menganggap pola konsumsi negara lain sebagai standar utama kehidupan. Menurutnya, masyarakat di negara-negara tertentu memiliki pola makan yang terbentuk berdasarkan kondisi iklim, lingkungan dan kebutuhan tubuh mereka. Karena itu, pola tersebut tidak harus diterapkan secara berlebihan di Indonesia.
Ia menegaskan, mengonsumsi makanan dari negara lain tentu bukan sebuah persoalan. Keberadaan restoran dan makanan internasional merupakan bagian dari dinamika masyarakat modern. Namun, untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat dinilai lebih baik mengoptimalkan sumber pangan lokal yang tersedia.
“Kalau ada restoran Jepang atau makanan dari negara lain tentu tidak masalah. Tetapi untuk konsumsi sehari-hari, kita tidak perlu merasa harus mengikuti pola mereka. Kita memiliki sumber pangan sendiri yang sangat beragam,” ujarnya.
Menurut Susilawati, pola kehidupan yang sesuai dengan karakter Indonesia juga berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan mental masyarakat. Gaya hidup sederhana, pola konsumsi yang seimbang serta pemanfaatan sumber pangan lokal dinilai dapat membantu masyarakat menjaga kesehatan.
Ia bahkan menilai penerapan gaya hidup sehat secara luas dapat membantu mengurangi beban negara dalam menyediakan pelayanan kesehatan. Semakin banyak masyarakat yang mampu menjaga kesehatan sejak dini, semakin kecil pula tekanan terhadap fasilitas dan pelayanan rumah sakit.
“Orientasinya adalah kesehatan fisik dan mental. Kalau masyarakat hidup sehat, jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan rumah sakit juga bisa berkurang. Negara tidak terlalu kerepotan menghadapi jumlah pasien yang besar sementara fasilitas kesehatan terbatas,” jelasnya.
Selain kesehatan, Susilawati juga menekankan pentingnya membangun karakter masyarakat melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, menjaga kebersihan, kerapian, keteraturan, ketertiban dan keindahan merupakan bentuk penghargaan seseorang terhadap dirinya sendiri.
Ia menilai kebiasaan tersebut tidak membutuhkan biaya besar dan tidak harus menunggu seseorang menjadi modern atau memiliki tingkat ekonomi tertentu. Justru, apabila dilakukan secara konsisten, kebiasaan sederhana tersebut dapat membentuk pola pikir dan karakter seseorang.
“Tampil rapi, bersih, teratur, tertib, wibawa dan indah merupakan bentuk kesadaran dan kepedulian setiap individu. Itu adalah penghargaan terhadap diri sendiri,” katanya.
Susilawati menambahkan, seseorang yang mampu menghargai dirinya sendiri akan lebih mudah menghargai orang lain. Sikap tersebut juga akan membentuk individu yang lebih siap menghadapi berbagai persoalan karena memiliki fondasi karakter yang kuat.
“Orang yang bisa menghargai dirinya sendiri secara otomatis akan belajar menghargai orang lain. Ketika menghadapi masalah, dia juga akan lebih siap menyelesaikannya dengan baik karena fondasi dirinya sudah kokoh,” ungkapnya.
Lebih jauh, Susilawati mengatakan karakter masyarakat Indonesia sejatinya dapat dibangun melalui sikap tegas sekaligus tenang. Ia mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak menjadikan kemajuan tanpa batas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan.
Menurutnya, kemajuan harus memiliki arah dan konsep yang jelas serta tetap mempertimbangkan karakter bangsa. Indonesia tidak harus mengadopsi seluruh pola kehidupan negara lain hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya telah menjadi negara maju.
“Tegas dan tenang itulah output dari karakter masyarakat Indonesia sejatinya. Kita tidak harus berorientasi pada kemajuan tanpa batas atau kemajuan yang sebenarnya tidak cocok dengan karakter Indonesia,” tegas Susilawati.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk membangun kehidupan yang lebih berkualitas karena didukung kondisi alam tropis, kekayaan sumber daya, nilai religi dan spiritual, serta budaya masyarakat yang memiliki tradisi kebersamaan.
Susilawati juga berpandangan bahwa berbagai persoalan yang muncul akibat interaksi sosial di tengah masyarakat tidak selalu harus diselesaikan melalui jalur hukum. Selama persoalan tersebut masih dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah, menurutnya, penyelesaian secara damai perlu dikedepankan.
“Persoalan yang muncul karena interaksi masyarakat sejatinya bisa didiskusikan dan didamaikan. Tidak harus selalu berakhir di jalur hukum,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu kembali melihat kekuatan yang dimilikinya sendiri. Modernisasi dan kemajuan teknologi tetap penting, tetapi kemajuan tersebut harus berjalan seiring dengan karakter bangsa dan kebutuhan masyarakat.
“Indonesia tidak perlu menjadi bangsa lain untuk disebut maju. Kita bisa maju dengan karakter kita sendiri, dengan kehidupan yang lebih tenang, sehat, tertib, damai dan tetap memiliki nilai dengan pola hidup slow living,” pungkas Dr. Susilawati M.Han.

