Dr. Susilawati, M.Han: Terus Bergerak, Tidak Lupa Istirahat untuk Menjaga Keseimbangan dan Pikiran Jernih

0
file_0000000069bc81faa00c0072e36161f3

JAKARTA, OTORITAS.co.id — Pengamat Pertahanan Dr. Susilawati, M.Han, menyoroti dinamika kehidupan nasional Indonesia yang dinilainya bergerak semakin cepat dalam mengejar kemajuan ekonomi. Menurutnya, bergerak tetap diperlukan, namun harus diimbangi dengan waktu istirahat agar setiap gagasan, kebijakan, dan langkah yang diambil dapat dipikirkan secara lebih jernih dan terukur.

Bukan tidak sabar, tetapi karena kurang istirahat sehingga mudah tersulut emosi dan itulah yang terjadi di kehidupan masyarakat saat ini.

“Dengan terus bergerak namun melupakan waktu untuk istirahat berdampak apa yang dikerjakan tidak efektif justru memunculkan masalah baru,” ujar Dr. Susilawati.

Ia mengatakan, dorongan untuk terus bergerak cepat dalam berbagai aktivitas kehidupan maupun pembangunan terkadang justru membuat masyarakat mengalami kelelahan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk melahirkan ide, gagasan, maupun mengambil keputusan secara efektif.

“Boleh saja kita terus bergerak, tetapi di antara gerakan itu harus diselingi dengan istirahat,” katanya.

Menurut Dr. Susilawati, istirahat tidak selalu harus dimaknai dengan bepergian atau melakukan aktivitas wisata ke berbagai tempat. Sebab, ketika akhir pekan tiba dan sebagian besar masyarakat memiliki pemikiran yang sama untuk berwisata, perjalanan tersebut justru dapat diwarnai kemacetan, keramaian, dan kelelahan baru.

“Kadang kita berpikir healing itu harus pergi ke suatu tempat. Padahal, sejatinya istirahat yang sebenarnya bisa dilakukan di rumah, dengan suasana yang lebih santai. Dari situ pikiran bisa menjadi lebih jernih,” jelasnya.

Dengan pikiran yang tenang dan jernih, kata dia, seseorang dapat menentukan langkah berikutnya secara lebih terukur. Pekerjaan pun tidak harus selalu dilakukan dengan mengandalkan tenaga fisik secara berlebihan hingga menimbulkan kelelahan.

“Istirahat yang baik menjadi bagian dari keseimbangan. Dari keseimbangan itu muncul pikiran yang jernih, sehingga kita bisa menentukan apa yang akan dikerjakan berikutnya dan menghindari hal-hal yang berpotensi merugikan atau membahayakan,” ujarnya.

Lebih jauh, Dr. Susilawati mengaitkan pentingnya keseimbangan tersebut dengan proses pengambilan kebijakan nasional. Ia mengingatkan agar kebijakan yang dibuat tidak justru menyelesaikan satu persoalan tetapi kemudian menimbulkan persoalan baru di tempat lain.

Menurutnya, sebuah kebijakan idealnya mampu menyelesaikan persoalan secara tuntas tanpa menciptakan masalah baru. Untuk itu, setiap kebijakan perlu disusun berdasarkan perhitungan dan ukuran yang jelas, termasuk memperhatikan dampak dari implementasinya.

Ia menilai, munculnya berbagai persoalan baru dalam pelaksanaan suatu kebijakan dapat terjadi ketika proses perumusan kebijakan dilakukan secara tergesa-gesa dan tidak melalui pertimbangan yang cukup matang.

“Kenapa kebijakan itu tidak terukur? Karena kebijakan yang dibuat tidak hadir dari pikiran yang tenang. Semuanya dilakukan tergopoh-gopoh,” ungkapnya.

Dr. Susilawati menambahkan, Indonesia sebagai negara tropis dengan karakter kepulauan memiliki kekayaan alam dan ruang kehidupan yang memungkinkan masyarakat mendapatkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.

“Indonesia ini negara tropis dan berbentuk kepulauan. Sesungguhnya Indonesia adalah surga dunia,” tuturnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya berorientasi pada kecepatan dalam pencapaian, tetapi juga memberikan ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.

Kapan bisa menikmati hidup secara mendalam (syukur) jika terus survival & kelelahan.

Baginya, bergerak maju tetap penting, namun kemajuan yang berkelanjutan membutuhkan keseimbangan, ketenangan, serta kemampuan untuk berpikir secara jernih sebelum mengambil keputusan.

“Terus bergerak itu penting, tetapi jangan lupa beristirahat. Dengan keseimbangan dan pikiran yang jernih, apa yang kita kerjakan bisa lebih terukur dan tidak menimbulkan persoalan baru, itulah yang disebut sejahtera bukan semata mapan secara ekonomi namun minus dalam kualitas/nilai kehidupan.” pungkas Dr. Susilawati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://staging-clanstvo.fksarajevo.ba/

http://help.neteye.co/article/instalacao-neteye/

https://cihef.org/domaine-dactivites/

https://www.guiamaster.com.ar/rubros/taxis

https://gte.co.id/idn/

https://cartel.ua/

https://nationalsportscamps.in/

https://chungtee.co.th/

https://csi-movie.com/

https://duncanscoins.org/

https://hipstermag.org/

https://pedodonti.nu/

https://www.duniamusso.org/

https://progate.me/

https://pediaafrica.org/

https://evergreengardensuk.co.uk/

https://artios.com.br/

https://vam-prodam.ru/business-tariffs

https://www.masaya.uml.edu.ni/

https://abtennisdevelopment.com/about/

https://imageauboutdesdoigts.org/

http://www.ritualhelper.lviv.ua/krematoriy/

https://uwaisteam.com/writingcamp

https://fintechplicity.com/trading/

https://vam-prodam.ru/shops

https://billiardsamara.ru/blog/

https://revistajireh.uml.edu.ni/publicaciones/

https://bashqash.com/bashqash-blog/

https://hr.iclick.co.nz/

https://www.nuevaguinea.uml.edu.ni/publicaciones/

https://jurnal.yoctobrain.org/index.php/ijodas/

https://www.nijpcr.nou.edu.ng/

https://tic.wonogirikab.go.id/

https://shambhuholdings.com/governance.html

https://yoctobrain.org/

https://ta.pp.ru/

https://kharkiv-nuau.hneu.edu.ua/

https://convergence.asaindia.org/

https://halosimetri.com/projects/

https://mk-gracia.ru/kompaniya/

https://bib.aseba.org/