Dr. Susilawati M.Han: Kemajuan Modernitas Tanpa Batas Ditambah Lemahnya Spiritual Dapat Mengikis Jati Diri Bangsa

JAKARTA, OTORITAS.co.id — Modernisasi dan perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan penguatan spiritualitas dan nilai-nilai religius dinilai dapat mengikis jati diri bangsa Indonesia. Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan tidak seharusnya hanya diukur melalui pencapaian materi dan teknologi, tetapi juga melalui ketenangan, kedamaian, keadilan, kemanusiaan, serta kuatnya hubungan kehidupan sosial masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Susilawati, M.Han, pengamat pertahanan, saat membahas tantangan Indonesia dalam menghadapi modernisasi dan perubahan kehidupan masyarakat di era digital.
Menurut Susilawati, kehidupan yang terlalu berorientasi pada materi berpotensi menimbulkan berbagai persoalan. Ketika kekayaan menjadi ukuran utama untuk mendapatkan penghormatan dan kedudukan sosial, nilai-nilai moral dan spiritual dikhawatirkan semakin terpinggirkan.
“Kalau kehidupan yang terlalu modern tidak diimbangi dengan spiritual atau religi yang tinggi, maka akan membahayakan. Jika semua pada akhirnya berorientasi pada pemikiran bahwa materi adalah segalanya,” ujar Susilawati.
Ia menilai dampak orientasi material tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Di kalangan elite, orientasi terhadap materi dapat mendorong terjadinya korupsi, sementara di masyarakat umum dapat memicu kekerasan dan berbagai kejahatan seperti kriminalitas jalanan, narkoba, penipuan dan sebagainya.
Susilawati mengatakan Indonesia memiliki karakter yang berbeda dengan negara-negara maju. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kondisi geografis, sumber daya alam, serta karakter masyarakat yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan negara lain.
Menurutnya, sejumlah negara dengan empat musim mengembangkan teknologi dan pola kehidupan tertentu sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi alam. Karena itu, Indonesia tidak perlu mengadopsi seluruh model kehidupan negara maju tanpa melakukan penyesuaian.
“Orientasi kemajuan yang dipegang bangsa Indonesia yang kuat spiritualitasnya dan berada di negara tropis tentu tidak sama dengan negara lain. Kita tidak bisa semata-mata mengadopsi model negara lain,” katanya.
Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, negara perlu lebih fokus mengelola potensi geografis, sumber daya alam, dan karakter penduduk Indonesia.
“Sadar akan sisi geografis, khas penduduk tropis, serta keberagaman sumber daya alam Indonesia. Itu menjadi kata kunci. Jadi kita tidak harus sama dengan negara lain,” tegasnya.
Susilawati juga menekankan pentingnya fungsi negara dalam melindungi dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tata kelola yang tepat. Namun, hal tersebut tidak berarti masyarakat boleh berhenti bekerja keras dan hanya mengandalkan bantuan.
Menurutnya, yang perlu diperkuat adalah kepedulian sosial. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan, lingkungan seharusnya memiliki kepedulian untuk membantu. Begitu pula dengan persoalan sosial yang masih dapat diselesaikan secara kekeluargaan.
“Bukan berarti karena sudah ada yang menolong kemudian kita tidak perlu bekerja. Bukan begitu. Dalam konteks kepedulian, kalau ada orang yang membutuhkan pertolongan, ya kita bantu,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak semua persoalan harus selalu diselesaikan melalui jalur hukum. Dalam kondisi tertentu, penyelesaian secara kekeluargaan justru dapat memperkuat hubungan sosial dan mencegah konflik yang lebih besar.
Susilawati juga menyoroti pentingnya mempertahankan budaya guyub yang menurutnya merupakan salah satu kekuatan masyarakat Indonesia. Hubungan sosial yang erat membuat masyarakat saling mengenal dan dapat menjadi kontrol sosial untuk mencegah berbagai bentuk kejahatan.
“Kalau kita guyub, berarti kita saling mengenal. Justru itu dapat meminimalisir kejahatan. Orang yang ingin berbuat jahat bisa menjadi segan karena dikenal oleh lingkungannya,” ujarnya.
Sebaliknya, ketika masyarakat semakin tidak saling mengenal, hubungan sosial dapat menjadi renggang dan kehidupan semakin individualistis. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengikis karakter khas masyarakat Indonesia yang selama ini kuat dengan nilai kebersamaan, religi, dan spiritualitas.
“Kita sebenarnya sudah mulai mengikis kekhasan kita sebagai bangsa yang nilai religi dan spiritualnya kental dengan keguyuban,” ungkapnya.
Meski demikian, Susilawati menegaskan bahwa dirinya tidak menolak pendidikan tinggi, teknologi, maupun kemajuan. Menurutnya, masyarakat justru harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang maju. Namun, penerapan ilmu dan teknologi harus tetap berada dalam koridor moral, spiritual, norma, serta kepentingan masyarakat.
“Saya kurang terlalu setuju kalau orientasinya hanya mengejar kemajuan. Saya lebih setuju mengejar ketenangan, kedamaian, keadilan, dan kemanusiaan,” katanya.
Ia menilai Indonesia perlu membangun model kemajuan yang sesuai dengan karakter bangsa. Teknologi dan modernisasi tetap diperlukan, tetapi harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas kehidupan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
“Spiritualitas dan religi harus menjadi penyeimbang kehidupan dalam menghadapi kemajuan dan modernisasi. Jangan sampai kita mengejar kemajuan material, tetapi kehilangan nilai-nilai yang justru menjadi kekuatan bangsa Indonesia karena harus terus menerus menyokong kemajuan tanpa batas sehingga kelelahan dan akhirnya mengambil jalan-jalan pintas yang merugikan diri sendiri juga orang lain,” pungkas Dr. Susilawati, M.Han. (**)
