30 Januari 2026

Tumpukan Sampah di TNGGP Meningkat, Aktivis Lingkungan Putri Nabila Damayanti Angkat Suara

0
IMG-20260130-WA0051

Jakarta, otoritas.co.id – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), salah satu taman nasional tertua di Indonesia yang ditetapkan pada 1980 dan berada di Provinsi Jawa Barat, saat ini tengah menghadapi persoalan serius terkait peningkatan volume sampah di kawasan konservasi. Kawasan seluas 24.270,80 hektare yang meliputi Gunung Gede, Gunung Pangrango, serta hutan pegunungan di sekitarnya ini sejatinya berfungsi melindungi ekosistem dan flora pegunungan yang khas.

Menanggapi kondisi tersebut, aktivis sekaligus pengamat lingkungan, Putri Nabila Damayanti, SH, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi TNGGP saat ini.

“Sebagai pemerhati lingkungan, hati saya selalu bergejolak setiap kali menginjakkan kaki di wilayah TNGGP. Bukan tentang keindahan, melainkan tentang ‘monumen’ plastik yang kian meninggi di wilayah konservasi,” ujar Putri kepada awak media, Jumat (30/1/2026) di Jakarta.

Menurutnya, Gunung Gede yang seharusnya menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa Barat kini menghadapi krisis identitas. Jalur pendakian ikonik tersebut, kata dia, mulai menyerupai tempat pembuangan akhir (TPA) raksasa yang tidak terkelola.

“Hamparan sabana Suryakencana yang diagungkan sebagai salah satu titik tercantik di Indonesia kini ternodai tumpukan sampah plastik, kaleng bekas logistik, hingga sisa kain pendaki. Meski aturan ‘bawa turun sampahmu’ telah lama digalakkan, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam pengawasan dan edukasi, bukan semata kesalahan para pendaki,” ulas Putri yang saat ini aktif di PP AMPG.

Putri menambahkan, persoalan sampah di kawasan pegunungan bukan hanya masalah estetika, tetapi juga berdampak serius terhadap lingkungan. Sampah plastik yang tertimbun dapat merusak kualitas infiltrasi air serta mengancam satwa liar yang berpotensi mengonsumsi sisa makanan atau plastik.

“Jika dibiarkan, Gunung Gede akan kehilangan daya tarik alaminya dan berubah menjadi ‘gunung sampah’ dalam hitungan tahun. Kita bukan mewarisi alam ini dari nenek moyang, melainkan meminjamnya dari anak cucu. Jangan kita kembalikan dalam keadaan hancur,” tegasnya.

Sebagai pengamat lingkungan, Putri mendesak otoritas TNGGP untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem perizinan dan pengawasan sampah.

“Kita butuh aksi nyata, bukan sekadar spanduk imbauan,” pungkasnya. (Megy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *