4 Maret 2026

Dirut Pertamina dan Menteri ESDM Terancam “Disemprot” Prabowo, CBA Soroti Stok BBM Hanya 20 Hari

0
images (1) (31)

Jakarta, Otoritas.co.id – Memanasnya situasi geopolitik global menyusul kabar penutupan Selat Hormuz oleh Teheran memicu kekhawatiran serius terhadap ketahanan energi nasional. Dampaknya tak hanya mengguncang pasar minyak dunia, tetapi juga menimbulkan tekanan bagi pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, mengingatkan bahwa kondisi tersebut bisa menjadi ujian berat bagi pimpinan sektor energi nasional, termasuk Direktur Utama PT Pertamina (Persero) dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebelumnya, pada akhir 2025, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, sempat menuai apresiasi setelah berhasil mengamankan pasokan 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair. Pengiriman menggunakan kapal MT Spyros yang bersandar di perairan selatan Cilacap itu dinilai sebagai langkah strategis di tengah ketidakpastian pasokan global.

Namun menurut Uchok, situasi kini berubah drastis. Ia menyinggung pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang memastikan stok BBM nasional aman untuk 20 hari ke depan meski terjadi gangguan di Selat Hormuz.

“Angka 20 hari itu justru alarm keras,” ujar Uchok dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026). Ia menilai, apabila dalam periode tersebut pemerintah gagal mengamankan tambahan pasokan atau harga minyak dunia melonjak tajam, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat dan perekonomian nasional.

Uchok bahkan menyebut potensi lonjakan harga BBM bisa sangat tinggi apabila distribusi global terganggu dan pemerintah tidak sigap mengambil langkah darurat. Ia juga menyoroti aspek politik dari krisis energi tersebut.

Menurutnya, posisi Menteri ESDM dinilai lebih rentan terhadap evaluasi dibandingkan Dirut Pertamina. Ia memprediksi tekanan politik akan meningkat apabila kondisi pasokan memburuk atau harga BBM tak terkendali.

Situasi ini menambah tantangan bagi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika konflik global.

Selat Hormuz Jalur Vital Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi perairan ini setiap hari. Gangguan sekecil apa pun berpotensi langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah internasional.

Bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, gangguan di jalur tersebut dapat berdampak pada neraca perdagangan, beban subsidi energi, hingga stabilitas harga BBM di dalam negeri.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, antara lain optimalisasi stok cadangan, diversifikasi sumber impor minyak mentah, serta percepatan distribusi dari kilang dalam negeri.

Meski demikian, pernyataan dari CBA menunjukkan masih adanya keraguan publik terhadap daya tahan sistem energi nasional apabila krisis berlangsung lebih dari beberapa pekan. Pemerintah pun dituntut bergerak cepat agar gejolak global tidak berkembang menjadi tekanan ekonomi di dalam negeri. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *