Dr. Susilawati, M.Han: Indonesia Ibarat Rumah Cantik yang Terus Direnovasi, Akhirnya Minus Kualitas Hidup

JAKARTA, OTORITAS.co.id – Pengamat Pertahanan, Dr. Susilawati, M.Han, menilai Indonesia perlu memiliki konsep pembangunan bangsa yang jelas, konsisten, dan berlandaskan karakter serta potensi geografisnya sendiri. Menurutnya, pembangunan nasional tidak seharusnya terus-menerus berubah arah karena ketergantungan dengan model pembangunan negara lain.
Ia mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah rumah tumbuh yang terus direnovasi tanpa arah dan konsep yang benar-benar matang akibat seluruh sektor kehidupan dikonversi oleh nilai ekonomi. Kondisi tersebut, menurutnya, berisiko membuat pembangunan berjalan tanpa kesinambungan sehingga proses kehidupan berbangsa dan bernegara belum optimal secara kualitas.
Susilawati menjelaskan bahwa sejak awal Indonesia seharusnya memiliki pijakan pembangunan yang tegas dengan mempertimbangkan identitas bangsa sebagai negara kepulauan, negara maritim, negara agraris, serta negara yang berada di kawasan tropis.
“Sejatinya kita harus menentukan konsep sejak awal. Kita ini negara kepulauan, negara maritim, negara agraris, dan berada di alam tropis. Desain prinsip pembangunan itu harus menjadi kata kunci dalam membangun Indonesia,” ungkap Susilawati.
Menurutnya, karakter geografis dan kekayaan alam Indonesia semestinya menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan nasional, mulai dari pembangunan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, ketahanan pangan, hingga sistem kehidupan masyarakat.
Ia mengingatkan agar Indonesia tidak mudah terombang-ambing mengikuti pola pembangunan negara maju yang memiliki kondisi geografis, iklim, dan karakter masyarakat berbeda. Belajar dari negara lain tetap diperlukan, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan jati diri bangsa yang menghasilkan keselarasan.
“Jangan sampai kita terus bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti kemajuan modernitas tanpa batas. Kita harus kuat dengan konsep sendiri, tidak mudah goyah oleh pengaruh dari luar, dan tetap menjadi diri sendiri,” tegasnya.
Dalam pandangannya, konsistensi konsep pembangunan juga berkaitan dengan ketahanan institusi nasional. Ia menyoroti pentingnya membangun fondasi ekonomi dan kelembagaan yang kokoh agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai dinamika eksternal maupun perubahan situasi global.
Lebih jauh, Susilawati menekankan bahwa stabilitas nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan negara.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadirkan rasa percaya dan ketenangan di tengah masyarakat. Kepercayaan tersebut menjadi modal penting agar pemerintah dapat menjalankan tugas dan fungsi secara lebih efektif tanpa terus-menerus dibayangi ketegangan serta perbedaan persepsi antara pemerintah dan masyarakat.
Ia berpandangan bahwa masyarakat sebagai pengguna kebijakan publik tidak selalu mengetahui seluruh proses, tantangan, dan kebutuhan yang dihadapi para pemimpin dalam menjalankan pemerintahan. Karena itu, komunikasi yang baik, transparansi, serta kepercayaan menjadi unsur penting dalam menjaga hubungan antara pemerintah dan rakyat.
“Indonesia membutuhkan pemimpin yang dipercaya. Bahkan sebelum melakukan berbagai upaya, kehadiran pemimpin yang dipercaya seharusnya sudah mampu membuat rakyat merasa tenang. Ketika masyarakat memiliki kepercayaan, stabilitas di berbagai sektor akan lebih mudah terjaga dan para pemimpin dapat bekerja dengan lebih baik tanpa memunculkan masalah lain, ” jelasnya.
Susilawati juga mengingatkan bahwa ketenangan masyarakat bukan berarti menghilangkan ruang kritik maupun pengawasan terhadap pemerintah. Sebaliknya, kepercayaan perlu dibangun melalui kebijakan yang terukur, komunikasi terbuka, dan pelaksanaan tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan dan dirasakan baik hasilnya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Sudah saatnya Indonesia menggunakan rekayasa AI. Mengurus masyarakat dengan jumlah penduduk yang terus bertambah bukan pekerjaan ringan. Teknologi harus menjadi peluang untuk membangun bangsa yang lebih cerdas, bukan hanya mengejar ekonomi, tetapi juga menghadirkan stabilitas dan ketenangan dalam kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan, transformasi digital dalam pemerintahan perlu dilakukan secara bertahap, dengan perencanaan matang dan pengawasan ketat. Pengembangan teknologi harus tetap menempatkan kepentingan publik sebagai tujuan utama, bukan justru menambah kerumitan baru dalam pelayanan maupun kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, Susilawati menegaskan bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan arah yang konsisten, kepemimpinan yang membangun kepercayaan, serta pemanfaatan teknologi yang berpijak pada kepentingan nasional.
Indonesia, menurutnya, tidak perlu kehilangan identitas hanya karena ingin mengejar kemajuan. Justru dengan memahami karakter bangsa, memperkuat fondasi dari dalam, dan mengelola perubahan secara terencana, pembangunan nasional dapat berlangsung lebih selaras, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pemanfaatan teknologi digital yang semakin canggih secara maksimal adalah pilihan terbaik. Dapat dibuat desain pembangunan yang jelas dengan dasar karakter Indonesia melalui rekayasa AI agar terbaca peta dan arah pembangunan sehingga memudahkan dalam melihat alur serta kesesuaian juga waktunya, hal ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan dan kontradiksi antar stakeholders.
