Dr. Susilawati, M.Han: Kehidupan Terasa Sulit Bukan Semata karena Kemiskinan, tetapi karena Ketergantungan pada Validasi Eksternal

JAKARTA, OTORITAS.co.id — Mengapa kehidupan masyarakat Indonesia masih terasa sulit di tengah kemajuan zaman dan perkembangan teknologi? Pengamat Pertahanan Dr. Susilawati, M.Han., menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemiskinan atau keterbatasan materi, tetapi juga berkaitan dengan pola pikir, kesadaran diri, serta kecenderungan mencari validasi dari luar dirinya.
Menurut Susilawati, kehidupan modern menghadirkan tantangan ketika ukuran keberhasilan seseorang terlalu banyak ditentukan oleh pengakuan dari lingkungan. Pujian, status sosial, kekayaan, kepemilikan berbagai benda material hingga gaya hidup dapat berubah menjadi ukuran utama seseorang dalam menilai keberhasilan dirinya.
“Selama ini masyarakat sering mencari validasi dari luar diri, bukan dari dalam diri. Mereka mengharapkan pujian, penghargaan, atau pengakuan melalui kekayaan materi dan status sosial,” ujar Susilawati.
Ia menegaskan bahwa materi tetap merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Namun, materi semestinya ditempatkan sebagai sarana untuk menjalani kehidupan, bukan menjadi sesuatu yang justru mengendalikan manusia.
“Memang hidup membutuhkan materi. Tetapi jangan sampai materi menjadi sesuatu yang dikejar-kejar, seolah-olah kehidupan hanya sebuah perebutan materi,” katanya.
Menurut Susilawati, persoalan bukan terletak pada boleh atau tidaknya seseorang memiliki kekayaan. Yang lebih penting adalah alasan dan kesadaran di balik keinginan untuk memiliki kekayaan tersebut.
“Kalaupun kita ingin memiliki kekayaan materi, biarlah itu muncul karena kesadaran dari dalam diri. Bukan karena ingin mendapatkan perhatian, pujian atau pengakuan dari orang lain,” ujarnya.
Ia menilai seseorang tetap dapat memiliki kekayaan dan menikmati hasil kerja kerasnya sepanjang kepemilikan tersebut tidak menjadi alat untuk membangun citra diri semata. Kekayaan yang lahir dari kesadaran, menurutnya, berbeda dengan kekayaan yang dikejar demi memenuhi kebutuhan akan validasi sosial.
“Boleh memiliki materi, boleh sejahtera, tetapi jangan sampai kita menjadi palsu karena ingin menunjukkan sesuatu kepada orang lain. Kita harus tetap menjadi diri sendiri,” katanya.
Menurut Susilawati, orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan kesadaran tinggi justru mampu menjalani kehidupan secara sederhana, meskipun secara ekonomi memiliki kemampuan yang cukup.
Kesederhanaan, menurut Susilawati, bukan berarti menolak kemajuan atau menghindari kesejahteraan. Kesederhanaan merupakan kemampuan untuk mengetahui batas kebutuhan dan tidak menjadikan kepemilikan material sebagai ukuran utama harga diri.
“Orang yang berilmu dan berkesadaranlah yang mampu hidup sederhana. Bukan karena tidak memiliki materi, tetapi karena dia tidak diperbudak oleh materi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa semakin banyak materi yang dimiliki, semakin besar pula urusan yang harus dikelola. Kepemilikan rumah, kendaraan, aset dan berbagai fasilitas lainnya memang memberikan manfaat, tetapi pada saat yang sama dapat menciptakan keterikatan dan tanggung jawab yang semakin besar.
“Kalau saya punya banyak rumah, punya banyak mobil dan berbagai materi lainnya, tentu urusan saya juga semakin banyak. Pertanyaannya, apakah itu membuat kita semakin bebas atau justru semakin terikat?” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk membangun kekuatan dari dalam diri sehingga tidak mudah terbawa arus perubahan maupun tekanan sosial.
“Kenapa tidak menjadi diri sendiri? Kuat dan kokoh. Walaupun di luar sana terjadi apa pun, kita tetap menjadi diri sendiri dan tetap tenang. Jangan karena orang lain menggunakan sesuatu, kemudian kita merasa harus mengikutinya,” kata Susilawati.
Ia menilai kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri merupakan bagian dari kesadaran. Manusia tidak harus mengejar segala sesuatu yang dimiliki orang lain hanya demi mendapatkan pengakuan.
Menurutnya, salah satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah bagaimana seseorang akan menjalani kehidupan apabila seluruh materi yang dimilikinya suatu saat tidak lagi ada.
“Kalau materi-materi itu tidak ada lagi di dunia ini, bagaimana kita hidup? Kalau kita tidak mampu hidup tanpa bergantung pada materi, berarti kita lebih tergantung kepada materi daripada kepada diri sendiri,” ujarnya.
Susilawati kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan proses penyelenggaraan negara, khususnya bagi para pejabat yang mendapatkan amanah untuk mengelola kepentingan masyarakat.
Menurut dia, jabatan, kekuasaan dan fasilitas yang melekat pada jabatan seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.
“Dalam penyelenggaraan negara, para pejabat harus memahami bahwa jabatan itu ada batas waktunya. Materi juga bukan sesuatu yang kekal. Karena itu, yang harus dibangun adalah kebijaksanaan dalam menjalankan amanah,” katanya.
Ia menilai penyelenggaraan negara membutuhkan manusia yang memiliki kekuatan dari dalam diri dan tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan material. Dengan kesadaran tersebut, jabatan dapat digunakan untuk menjalankan tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Susilawati menegaskan, apabila manusia maupun penyelenggara negara justru dikendalikan oleh materi, maka kehidupan yang dibangun menjadi rapuh. Ketika sumber materi, kekuasaan atau berbagai kepentingan yang menopangnya berubah, kehidupan tersebut juga berpotensi ikut goyah.
“Kalau justru materi yang mengendalikan kita, berarti kehidupan kita rapuh dan gampang hancur. Bukan kehidupan seperti itu yang mau kita wujudkan dalam kehidupan nasional,” tegasnya.
Ia berharap proses penyelenggaraan negara tidak hanya berorientasi pada pencapaian material jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan bangsa dan kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.
Menurut Susilawati, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya dan kekayaan material, tetapi juga bangsa yang memiliki manusia-manusia yang mampu mengendalikan dirinya, berpikir jernih dan menjalankan amanah secara bertanggung jawab.
“Kata kuncinya adalah hidup yang bijak. Dengan hidup yang bijak, kita akan selamat dalam jangka panjang. Bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menjaga kehidupan bangsa agar tetap kokoh, manusiawi dan berkelanjutan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Susilawati.
