Kun Wardana Dorong Teknologi Satelit, Drone dan AI Terintegrasi Hadapi Karhutla

0
IMG-20260921-WA0020

JAKARTA, OTORITAS.co.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan mendorong perlunya penguatan sistem deteksi dini dan respons cepat dengan memanfaatkan teknologi digital. Pakar AI dan Teknologi Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto, M.T., mendorong integrasi teknologi satelit, drone, sensor lapangan dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menghadapi ancaman karhutla.

Kun Wardana mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut penting karena karhutla memiliki wilayah sebaran yang luas dan membutuhkan pemantauan secara terus-menerus. Sistem berbasis teknologi dinilai dapat membantu petugas memperoleh informasi mengenai kondisi wilayah sebelum maupun ketika kebakaran terjadi.

“Teknologi harus digunakan bukan hanya ketika kebakaran sudah terjadi. Kita harus menggunakannya untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin sehingga manusia dapat melakukan tindakan sebelum api berkembang,” ujar Kun Wardana.

Menurutnya, teknologi satelit dapat digunakan untuk melakukan pemantauan kawasan hutan dan lahan dalam cakupan luas. Data yang diperoleh kemudian dapat dianalisis menggunakan AI dengan menggabungkan sejumlah parameter, seperti temperatur permukaan, kelembapan, kondisi cuaca, arah angin, hotspot dan riwayat kebakaran.

Sementara itu, drone dapat digunakan untuk melakukan verifikasi terhadap lokasi yang terindikasi memiliki potensi atau telah mengalami kebakaran. Hasil pemantauan tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan bagi petugas untuk menentukan tindakan di lapangan.

“Konsepnya adalah satelit memantau, AI menganalisis, drone melakukan verifikasi, kemudian manusia mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Semuanya harus terhubung dalam satu sistem,” katanya.

Kun Wardana menjelaskan sistem tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat pemantauan karhutla berbasis AI. Sistem akan menerima data secara berkala dari berbagai sumber, kemudian mengidentifikasi perubahan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.

Apabila ditemukan indikasi tertentu, sistem dapat mengirimkan peringatan kepada petugas untuk melakukan pengecekan di lokasi.

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan agar penanganan karhutla tidak hanya bersifat reaktif. Pemerintah dan petugas di lapangan dapat melakukan langkah pencegahan berdasarkan informasi risiko yang diperoleh sebelum kebakaran meluas.

Ia juga mendorong pemerintah membangun peta risiko karhutla digital yang diperbarui secara berkala. Peta tersebut dapat menunjukkan kondisi wilayah berdasarkan tingkat kekeringan, temperatur, kelembapan, hotspot, kondisi angin, kualitas udara serta riwayat kejadian kebakaran.

“Dengan peta risiko yang dinamis, kita dapat mengetahui wilayah mana yang membutuhkan peningkatan patroli dan kesiapsiagaan. Jadi sumber daya dapat diarahkan berdasarkan data,” ujarnya.

Selain pemantauan melalui satelit dan drone, Kun Wardana menilai masyarakat dapat menjadi bagian dari sistem deteksi dini. Laporan masyarakat mengenai asap atau dugaan titik api dapat masuk ke sistem digital dan kemudian diverifikasi melalui data satelit, drone maupun pemeriksaan petugas.

Namun, ia menegaskan teknologi tidak dapat berdiri sendiri dalam menangani karhutla. Pengawasan kawasan, tata kelola lahan, kesiapsiagaan pemerintah daerah, penegakan hukum dan partisipasi masyarakat tetap diperlukan.

“AI bukan pengganti manusia. AI adalah alat untuk membantu manusia mendapatkan informasi yang lebih cepat dan mengambil keputusan berdasarkan data. Keputusan dan tindakan tetap menjadi tanggung jawab manusia serta otoritas yang berwenang,” tegasnya.

Kun Wardana berharap pemanfaatan teknologi dalam penanganan karhutla dapat dikembangkan secara terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, pengelola kawasan, masyarakat, akademisi dan pihak terkait lainnya.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui lokasi kebakaran, tetapi bagaimana kita dapat mencegah, mendeteksi lebih awal, mempercepat respons dan mengurangi dampak karhutla terhadap masyarakat, lingkungan dan aktivitas ekonomi,” pungkasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://staging-clanstvo.fksarajevo.ba/

http://help.neteye.co/article/instalacao-neteye/

https://cihef.org/domaine-dactivites/

https://www.guiamaster.com.ar/rubros/taxis

https://gte.co.id/idn/

https://cartel.ua/

https://nationalsportscamps.in/

https://chungtee.co.th/

https://csi-movie.com/

https://duncanscoins.org/

https://hipstermag.org/

https://pedodonti.nu/

https://www.duniamusso.org/

https://progate.me/

https://pediaafrica.org/

https://evergreengardensuk.co.uk/

https://artios.com.br/

https://vam-prodam.ru/business-tariffs

https://www.masaya.uml.edu.ni/

https://abtennisdevelopment.com/about/

https://imageauboutdesdoigts.org/

http://www.ritualhelper.lviv.ua/krematoriy/

https://uwaisteam.com/writingcamp

https://fintechplicity.com/trading/

https://vam-prodam.ru/shops

https://billiardsamara.ru/blog/

https://revistajireh.uml.edu.ni/publicaciones/

https://bashqash.com/bashqash-blog/

https://hr.iclick.co.nz/

https://www.nuevaguinea.uml.edu.ni/publicaciones/

https://jurnal.yoctobrain.org/index.php/ijodas/

https://www.nijpcr.nou.edu.ng/

https://tic.wonogirikab.go.id/

https://shambhuholdings.com/governance.html

https://yoctobrain.org/

https://ta.pp.ru/

https://kharkiv-nuau.hneu.edu.ua/

https://convergence.asaindia.org/

https://halosimetri.com/projects/

https://mk-gracia.ru/kompaniya/

https://bib.aseba.org/