Dr. Susilawati M.Han: Selamatkan Habitat Orangutan sebagai Keseimbangan Alam menjadi Sumber Kehidupan Manusia

0
file_000000008ff481fa93ad9b9a11e151cd

JAKARTA, OTORITAS.co.id – Kematian orangutan bernama Sampurna yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi kritis di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perhatian serius terhadap keberlangsungan habitat satwa langka di Indonesia.

Akademisi dan pemerhati lingkungan Dr. Susilawati, M.Han mengatakan, keberadaan orangutan merupakan kekayaan Indonesia yang memiliki nilai penting bagi dunia sehingga harus dilestarikan dan dikembalikan ke habitat alaminya.

Susilawati mengungkapkan, dalam disertasinya di IPB pada 2019, dirinya mengangkat kajian mengenai ekonomi wisata konservasi orangutan di Bukit Lawang, Sumatera Utara. Menurutnya, keberadaan orangutan yang semakin langka sebenarnya dapat menjadi kekuatan bagi pengembangan pariwisata Indonesia apabila habitatnya dijaga dengan baik.

“Orangutan ini merupakan sesuatu yang langka dan menjadi milik dunia yang berada di Indonesia. Itu suatu hal yang membanggakan dan sejatinya harus dilestarikan serta dikembalikan ke habitatnya,” ujar Susilawati.

Ia menilai, pelestarian orangutan tidak hanya berkaitan dengan persoalan konservasi, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan negara melalui pengembangan ekowisata.

Jika habitat orangutan tetap terjaga, kata dia, kawasan seperti Bukit Lawang berpotensi menjadi tujuan wisatawan mancanegara. Kehadiran wisatawan dapat memberikan pemasukan dan devisa bagi Indonesia tanpa harus melakukan eksploitasi terhadap alam.

“Kalau habitat orangutan yang langka ini bisa lestari, otomatis bisa menjadi tujuan wisata mancanegara. Negara-negara empat musim tidak memiliki satwa seperti ini. Wisatawan bisa datang ke Indonesia untuk melihat orangutan di habitatnya. Jadi kita mengambil manfaat ekonominya dari pariwisata, tetapi tidak merusak lingkungan,” jelasnya.

Susilawati menegaskan, pertumbuhan penduduk dan kebutuhan ekonomi manusia tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan habitat makhluk hidup lainnya. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan seimbang dengan kelestarian lingkungan.

Peristiwa karhutla, lanjutnya, menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan dapat memberikan dampak langsung terhadap satwa. Orangutan yang kehilangan habitat akan menghadapi berbagai ancaman, dampak dari aktivitas manusia seperti panas, asap, kekurangan makanan dan terganggunya ruang hidup.

“Manusia yang bertambah tidak serta-merta harus menghilangkan habitat makhluk hidup lainnya di muka bumi. Kalau ingin mengejar ekonomi, jangan sampai lingkungan dan habitatnya yang dikorbankan,” tegasnya.
Ia juga meminta pemerintah lebih tegas dalam mencegah berbagai aktivitas yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan hilangnya habitat satwa. Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan harus diwujudkan melalui keseimbangan antara kepentingan manusia dan kelestarian alam.

“Pemerintah harus sangat tegas terhadap komitmen dalam upaya pencegahan. Manusia dalam keberlanjutan hidupnya mampu menjaga keseimbangan alam sebagai sumber kehidupannya. Komitmen pencegahan harus kuat. Manusia harus bisa hidup berkelanjutan dan itu harus berimbang dengan alam. Kalau pincang sebelah, pada akhirnya manusia juga akan kehilangan sumber kehidupannya,” katanya.

Menurut Susilawati, orientasi pembangunan yang hanya mengejar keuntungan materi berpotensi menyebabkan eksploitasi alam secara berlebihan. Sebaliknya, pembangunan yang berlandaskan ilmu pengetahuan dapat menciptakan keseimbangan antara kehidupan manusia dan lingkungan.

“Kalau orientasi kita hanya materi, akibatnya lingkungan menjadi rusak. Tetapi kalau kehidupan dilandasi ilmu pengetahuan, keseimbangan hidup manusia dengan alam bisa tercipta dan terwujud,” ujarnya.

Ia berharap kejadian yang menimpa Sampurna menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pihak. Upaya penyelamatan orangutan harus dilakukan bersamaan dengan perlindungan habitatnya, sehingga satwa tersebut tidak terusir dari lingkungan alaminya akibat aktivitas manusia.

“Jangan sampai kehadiran manusia di bumi menjadi ancaman bagi makhluk lainnya dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi. Hidup berdampingan dengan alam bukan pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan bumi tetap layak dihuni hingga generasi mendatang,” pungkas Dr. Susilawati M.Han.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://staging-clanstvo.fksarajevo.ba/

http://help.neteye.co/article/instalacao-neteye/

https://cihef.org/domaine-dactivites/

https://www.guiamaster.com.ar/rubros/taxis

https://gte.co.id/idn/

https://cartel.ua/

https://nationalsportscamps.in/

https://chungtee.co.th/

https://csi-movie.com/

https://duncanscoins.org/

https://hipstermag.org/

https://pedodonti.nu/

https://www.duniamusso.org/

https://progate.me/

https://pediaafrica.org/

https://evergreengardensuk.co.uk/

https://artios.com.br/

https://vam-prodam.ru/business-tariffs

https://www.masaya.uml.edu.ni/

https://abtennisdevelopment.com/about/

https://imageauboutdesdoigts.org/

http://www.ritualhelper.lviv.ua/krematoriy/

https://uwaisteam.com/writingcamp

https://fintechplicity.com/trading/

https://vam-prodam.ru/shops

https://billiardsamara.ru/blog/

https://revistajireh.uml.edu.ni/publicaciones/

https://bashqash.com/bashqash-blog/

https://hr.iclick.co.nz/

https://www.nuevaguinea.uml.edu.ni/publicaciones/

https://jurnal.yoctobrain.org/index.php/ijodas/

https://www.nijpcr.nou.edu.ng/

https://tic.wonogirikab.go.id/

https://shambhuholdings.com/governance.html

https://yoctobrain.org/

https://ta.pp.ru/

https://kharkiv-nuau.hneu.edu.ua/

https://convergence.asaindia.org/

https://halosimetri.com/projects/

https://mk-gracia.ru/kompaniya/

https://bib.aseba.org/