Dari Bekal Rp70 Ribu hingga Menjadi Referensi Akademik, Buku Muhammad Ja’far Hasibuan Diluncurkan di Universitas Indonesia

JAKARTA, OTORITAS.co.id – Semangat literasi, inovasi, dan perjuangan anak bangsa kembali mendapat panggung akademik melalui peluncuran dan bedah buku internasional berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” karya Muhammad Ja’far Hasibuan. Kegiatan yang berlangsung di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) ini menjadi momentum penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis pengalaman empiris yang dipadukan dengan kajian akademik.
Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Semester I Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), mengatakan bahwa seminar dan talkshow tersebut menjadi ruang dialog ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pembuat kebijakan dari berbagai bidang keilmuan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Mega Press Nusantara itu diikuti sekitar 500 peserta secara langsung dan 1.500 peserta secara daring. Acara mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.
Buku karya Muhammad Ja’far Hasibuan diresmikan atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilan pimpinan Polri. Menurut Ja’far, peluncuran buku tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan sosial tidak menjadi penghalang untuk melahirkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Peluncuran ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk menghasilkan karya yang memenuhi standar akademik dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Ja’far, Kamis (30/7/2026).
Dalam bukunya, Ja’far mengisahkan perjalanan hidup sebagai anak yatim yang berasal dari desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Dengan bekal hanya Rp70.000, ia merantau dan membiayai pendidikan melalui usaha berjualan roti sambil menempuh studi.
Berbagai keterbatasan yang dihadapi justru menjadi titik awal lahirnya penelitian dan inovasi yang kemudian melahirkan Biofar SS, sebuah inovasi yang dikembangkan melalui riset lapangan, pengujian laboratorium, dan implementasi di masyarakat.
Ja’far mengungkapkan, dukungan melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi amanah yang mendorongnya untuk mengembangkan penelitian yang memberikan manfaat nyata, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan.
“Kompetensi dan pengalaman yang saya peroleh selama pendidikan diarahkan menjadi karya terapan yang teruji secara ilmiah agar dapat dimanfaatkan masyarakat luas. Dukungan para dosen dan pimpinan institusi menjadi fondasi metodologis dan etis dalam setiap proses penelitian,” katanya.
Keunggulan buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut terletak pada kemampuannya memadukan pengalaman hidup penulis dengan teori-teori ilmiah yang diakui secara internasional. Penyusunannya didukung lebih dari 200 referensi lintas disiplin, menjadikan buku ini tidak hanya sebagai kisah inspiratif, tetapi juga referensi akademik.
Berbagai teori besar seperti Teori Modal Sosial, Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, Keadilan Kesehatan, Determinan Sosial Kesehatan, hingga teori psikologi perkembangan, resiliensi, growth mindset, dan Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR) digunakan untuk menjelaskan perjalanan hidup dan proses inovasi secara ilmiah.
Pendekatan manajemen modern seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, metode RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS) juga diterapkan untuk menggambarkan proses pengembangan inovasi secara sistematis.
Acara dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si., sementara sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Dalam sambutannya disampaikan bahwa karya Muhammad Ja’far Hasibuan membuktikan potensi generasi muda Indonesia tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi, melainkan oleh integritas, disiplin, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama.
Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., menilai buku tersebut memiliki bobot akademik tinggi karena mampu menghubungkan pengalaman hidup yang autentik dengan teori-teori mutakhir dalam bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan. Ia bahkan menyebut karya tersebut telah menjadi bahan diskusi di kalangan profesor dan membuka peluang bagi Ja’far untuk melanjutkan studi doktoral di Harvard University.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, yang menilai kisah hidup Ja’far dapat dipahami melalui perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.
Sementara itu, Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menyebut karya tersebut sebagai kebanggaan almamater dan bangsa karena menunjukkan bahwa kerja keras, integritas, dan doa dapat melahirkan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan.
Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilannya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., juga memberikan apresiasi dengan menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.
Selain itu, Perpustakaan Nasional RI menetapkan buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” sebagai salah satu koleksi referensi nasional. Kegiatan ditutup dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, dan penandatanganan dokumen referensi.
Melalui pendekatan multidisiplin yang menggabungkan pengalaman empiris dan teori ilmiah, buku ini diharapkan menjadi rujukan bagi akademisi, peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan, sekaligus menginspirasi generasi muda bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan. (Megy)
